Film Dokumenter

'Tanah Mama', Potret Perjuangan Perempuan di Tanah Papua

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 23/12/2014 07:44 WIB
'Tanah Mama', Potret Perjuangan Perempuan di Tanah Papua Poster Film 'Tanah Mama' (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika perempuan menjadi satu-satunya tempat harapan generasi berkembang, namun harus bertambah bebannya akibat sosial budaya yang tidak lagi adil serta proporsional dalam memperlakukan sang mama.
 
Film dokumenter Tanah Mama menceritakan sepenggal kisah seorang istri sekaligus ibu bernama Halosina yang tinggal di pedalaman Yahukimo. Halosina merupakan seorang dukun beranak yang menjadi tulang punggung keluarga akibat sang suami tidak bekerja dan akhirnya ditinggal kawin.
 
Halosina harus banting tulang untuk tetap menghidupi empat anaknya yang masih kecil, jangankan sekolah, untuk makan pun Mama bingung. Dirinya hanya mengandalkan ubi dan sayuran untuk bertahan hidup. Di saat berjuang sendirian, dirinya malah didenda hanya karena mengambil sebuah ubi dari tanah saudaranya sendiri.
 
Di tengah berbagai kesulitan yang datang silih berganti, Mama Halosina tetap bertahan untuk anak-anaknya, karena selayaknya tanah tempat ubi tumbuh, dirinya lah tempat anak-anaknya tumbuh dan berkembang.
 
Film berdurasi 62 menit ini membawa penonton mengikuti kehidupan asli masyarakat pedalaman Papua yang telah mengalami perubahan budaya akibat masuknya pemerintah beserta program-program yang dipaksakan. Semua dilakukan secara natural tanpa ada bumbu drama yang disusupi.
 
Sang sutradara, Asrida Elisabeth, cukup mahir membuat alur cerita dokumenter menjadi lebih mudah dicerna tanpa harus terkesan menggurui. Kepolosan para pemain jelas tergambar dalam film berbahasa asli Papua tersebut. Termasuk emosi sang mama yang menahan ketegaran atas beban hidup yang ia alami.
 
Dokumenter ini tidak hanya menceritakan mengenai beban hidup sang mama, tetapi juga menggambarkan kondisi Papua yang seutuhnya, termasuk pemandangan alam yang luar biasa indah. Kondisi anak-anak sang mama yang tidur di atas jerami sungguh menggugah nurani.
 
Meski dikemas dengan secara apik, perlu ditambahkan narasi atas budaya yang ada di Papua. Kondisi awal sebelum pemerintah datang dan merubah sistem adat asli tidak tergambar dalam film ini dan membuat penonton sempat bertanya, apa yang sebenarnya terjadi.
 
Karena masalah yang ada bukan hanyalah beban hidup sang mama, tetapi karena perubahan budaya akibat program-program pemerintah yang merubah adat istiadat asli Papua yang sudah secara alami terbentuk dan stabil.
 
Misalnya, perubahan sistem pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam adat asli yang sudah stabil hilang akibat laki-laki lebih berminat bekerja di luar kampung dan meninggalkan kebun yang akhirnya dibebankan kepada perempuan.
 
Alur cerita awal film yang dipaparkan dirasa masih belum mengajak penonton untuk memahami kondisi sang mama. Empati tersebut baru datang setelah mulai masuk segmen sang mama menangisi kondisi. Mengemas dokumenter memang menjadi tantangan tersendiri, karena dapat membuat bosan bagi yang belum pernah menonton dokumenter.
 
Namun secara keseluruhan, nilai budaya yang ingin diangkat oleh produser Nia Dinata dalam film yang diproduksi Kalyana Shira Films ini patut untuk dijadikan bahan renungan bahwa seringkali moderenisasi yang terjadi bukan membuat kondisi menjadi lebih adil, tetapi justru membebani salah satu pihak.
 
Mungkin sudah bosan untuk mengharapkan pemerintah memperhatikan bagian Indonesia yang lain, sedangkan tidak pernah ada perubahan signifikan terjadi. Setidaknya usaha Nia Dinata menggugah penonton Indonesia menengok ke sebelah timur Indonesia dan mencerdaskan tontonan masyarakat melalui dokumenter patut diapresiasi.