Asal Muasal

Perjalanan Lilin Sampai ke Perayaan Natal

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 25/12/2014 16:35 WIB
Dahulu, lilin digunakan dalam ritual Romawi kuno dan kepercayaan-kepercayaan lain. Tradisi itu turut diadopsi saat agama Kristen menyebar di dunia. Lilin dinyalakan dalam Malam Kudus Natal (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perayaan Natal bukan hanya identik dengan pohon cemara, lonceng, dan Sinterklas. Natal akan semakin syahdu jika ditambah lilin yang biasa digunakan dalam upacara peribadatan. Bagaimana lilin bisa menjadi bagian dalam perayaan Natal?

Mengutip tulisan Ben Taylor dalam situs Swide, lilin memang telah lama digunakan dalam upacara. Penelusuran soal itu berujung pada sebuah festival Romawi kuno bernama Saturnalia. Festival itu biasanya dilakukan setiap tanggal 17 Desember menurut penanggalan Julian.

Hari itu seluruh orang libur, dan perayaan diawali dengan pengorbanan di Kuil Saturnus. Ada pula perjamuan publik, dan diakhiri dengan tukar kado. Setelah itu usai, masih ada acara lanjutan berupa pesta pora. Dalam pesta, segala norma disingkirkan dan judi diperbolehkan.


Pesta itu berlangsung sampai 23 Desember. Di dalamnya, digunakan lilin. Macrobius, salah satu sumber sejarah menyebut, Saturnalia adalah festival cahaya. Itu dilakukan untuk mengantarkan masyarakat Romawi ke musim dingin.

Menurut anggapan mereka, itu adalah musim saat matahari ada di jarak terjauh dengan bumi. Matahari direpresentasikan dengan cahaya lilin. Lilin juga dijadikan simbol untuk pengetahuan dan kejujuran. Ritual itu dilakukan bertahun-tahun, dan terbawa sampai masa Kristen tiba.

Ritual yang mirip, juuga terjadi di Persia. Konon, masyarakat di sana percaya bahwa 25 Desember adalah hari pengorbanan di mana dewa matahari mereka dilahirkan. Mereka memeringatinya sebagai keberuntungan di masa-masa yang dipenuhi kegelapan.

Lilin merah dan putih dinyalakan sebagai penghormatan untuk dewa mereka. Lilin merah merepresentasikan matahari, dan lilin putih untuk bulan. Sebanyak 14 lilin, tujuh merah dan tujuh putih, ditata rapi di altar.

Lilin juga digunakan pada upacara Natal kaum Pagan. Mereka merayakan kelahiran kembali cahaya di tengah musim dingin. Dipercaya, hari itu penguasa bumi akan memberi harapan baru, berupa cahaya yang diwujudkan lewat lilin.

Saat agama Kristen menyebar, beberapa simbolisasi dari ritual-ritual yang disebut di atas diserap. Salah satunya, penggunaan lilin. Di abad pertengahan, sebuah lilin besar dinyalakan sebagai representasi Bintang Bethlehem. Mereka juga meletakkan lilin pada pohon Natal, sebagai penunjuk jalan bagi tiga orang bijaksana untuk menemukan tujuannya.

Lilin besar juga dijadikan simbol Kristus, diletakkan di tengah rangkaian bunga dan tetap dinyalakan sepanjang malam yang suci.

Legenda lilin tak cukup sampai di situ. Simbolisasinya masih digunakan sampai kini, dan berfungsi macam-macam. Lilin yang diletakkan di tepi jendela, mengindikasikan tempat yang aman bagi pendeta untuk berceramah pada jemaah di Irlandia. Tradisi itu dibawa sampai ke Amerika.

Di Inggris, lilin biasa dibawa oleh para penyanyi gereja sebagai simbol atas Kristus. Tradisi itu juga menyebar ke seluruh dunia. Kini, ada banyak festival yang masih menggunakan lilin sebagai atribut pentingnya.