Erotika dalam Novel

Banyak Peminat Novel Dewasa di Indonesia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 23/12/2014 16:35 WIB
Novel-novel erotis asing yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia mengalami perhalusan. Faktanya, novel itu masih juga banyak diminati masyarakat Indonesia. Ilustrasi rak buku (Jay Mantri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum Fifty Shades of Grey terjual puluhan juta kopi, novel erotis itu sempat menyentak pembaca Amerika. Mereka tak menyangka, E.L. James yang seorang ibu bisa mengungkap pengalaman seks seperti itu. Kisahnya pun dituturkan secara vulgar dan membangkitkan berahi.

Novel yang bakal difilmkan 14 Februari 2015 itu belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hetih Rusli, editor fiksi Gramedia Pustaka Utama mengaku tidak mengetahui pertimbangannya. Padahal buku itu sudah ada sejak tahun 2011.

Apakah Indonesia memang bukan pasar untuk novel erotis semacam itu? Tidak juga. Buktinya, Gramedia Pustaka Utama telah menerjemahkan Bared to You dan Reflected in You, novel erotis pertama dan kedua karya Sylvia Day.


Tahun depan, buku ketiganya akan rilis. Bared to You juga terjual 10 ribu eksemplar hanya dalam waktu setahun. Namun untuk buku-buku seperti itu, Hetih punya aturan khusus. Di bagian depan harus dilabeli "Khusus Dewasa".

"Coba menerjemahkan novel dewasa baru Sylvia Day ini. Itu pun kerjanya ekstra. Label itu juga dibutuhkan untuk etika," ujar Hetih pada CNN Indonesia saat diwawancara di kantornya.

Bared to You (Terbuka Untukmu) dan Reflected to You (Terpantul Padamu) boleh disebut novel dewasa pertama yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Namun sebenarnya, adegan vulgar sudah ada di novel-novel sebelumnya, disisipkan dalam cerita romansa maupun yang lebih serius.

Novel-novel detektif karya Linda Howard misalnya, selalu ada selipan aktivitas seksual yang dituturkan dengan detail dan menggoda. Hetih menjelaskan, redaksi punya standar menyunting khusus untuk novel impor macam itu.

"Yang pasti tidak menyebut bendanya. Adegannya juga diperhalus. Lebih mengutamakan perasaan, bukan menjabarkan kegiatannya. Banyak pemotongan, sensornya tajam itu," kata Hetih menyebutkan. Pihaknya tidak menyebut 'membelai' atau 'mendorong' melainkan lebih ke perasaan bahagia dan efek romansa yang ditimbulkan.

"Lebih ke perasaan, jadi enggak terlalu vulgar," ujar Hetih menambahkan.

Diakui Hetih, peminat novel dewasa seperti karya Sylvia Day cukup banyak di Indonesia. Bukan tidak mungkin, jika peminatnya terus bertambah, itu akan menjadi kategori di novel Indonesia. Menurutnya itu akan memberi warna.

"Ini (serial Crossfire karya Sylvia Day) peminatnya banyak. Jadi kami coba. Mungkin saja jadi kategori baru. Kami juga punya novel religius. Kebutuhan pembaca kan berbeda-beda. Cuma memang harus ada label, khusus pembaca dewasa. Bukan berarti enggak boleh dibaca, tapi butuh pikiran dewasa untuk itu," ujarnya.

Di Barat, novel seperti Bared to You dan Fifty Shades of Grey juga disebut 'Erotic Romance' dan diberi label 'Mature Audience'.