Tak jarang, filmnya menghadirkan pro-kontra di kalangan penonton maupun kelompok tertentu. Film Hijab yang masih tayang di bioskop dan baru rilis 15 Januari 2015, kini hangat diperbincangkan. Lagi-lagi, cap kontroversial melekat dalam karya yang ditampilkan Hanung.
Dihubungi CNN Indonesia melalui sambungan telepon, Jumat (23/1) Hanung menegaskan dirinya tidak pernah berniat membuat film kontroversial. "Ya sebenarnya saya sedih, kenapa orang mudah sekali mengecap seseorang kontroversial. Padahal perlu diingat, saya tidak pernah membuat film yang diniati untuk kontroversial," kata Hanung menuturkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hanung, sepanjang sejarah, tidak ada film kontroversial yang meledak di pasaran dan menjadi film box office atau ditonton oleh lebih dari sejuta orang. Dia mencontohkan, film Petualangan Sherina (2000), Ada Apa dengan Cinta? (2002), Ayat-ayat Cinta (2008), Laskar Pelangi (2008), dan 5 CM (2012).
Film Hijab sendiri, yang ditargetkan dapat meraih lebih dari satu juta penonton, masih jauh dari ekspektasi. Film drama komedi tersebut baru menarik 44.372 penonton, berdasarkan data dari situs Film Indonesia.
Meski demikian, Hanung menyadari bahwa sebuah karya seni, termasuk film, lekat dengan kritik. Dia mengaku dapat menerima kritik, sepanjang itu ditujukan kepada karyanya, bukan terhadap dirinya secara pribadi. "Kalau sebatas dikritik tidak ada persoalan, namanya karya seni tidak akan bisa memuaskan semua pihak," ujarnya.
Sutradara bernama lengkap Setiawan Hanung Bramantyo itu juga berpendapat, film yang bagus adalah film yang mampu membuat penontonnya "berperang pemikiran".
"Film yang bagus adalah film yang merangsang intelektualitas secara visual, sehingga yang menonton adalah orang-orang yang siap bergelut dengan intelektualitasnya," ucap pria kelahiran Yogyakarta, 39 tahun silam itu.
(rsa/vga)