Saniscara dipilih menjadi tembang pembuka. Tak salah menempatkan lagu ini di awal. Bertempo cepat, Saniscara terasa ramah di telinga dan mengundang rasa penasaran apa yang bakal disuguhkan Budjana di lagu-lagu berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruang Dialisis adalah track ke-empat yang sekaligus menjadi sajian utama dalam album ini. Sayatan dawai-dawai Budjana yang dipadupadankan dengan suara perempuan tua yang melantunkan Mamuit—kidung pemakaman adat Bali—membuat lagu sarat makna ini terasa begitu sakral.
Dan ternyata suara perempuan yang berkali-kali muncul di beberapa bagian lagu ini tak lain adalah suara nenek Budjana sendiri, yang sedang menyanyikan kidung itu saat upacara pemakaman sang ayah.
Lagu berdurasi hampir 12 menit ini tampaknya menjadi wadah dari segudang kenangan Budjana, yang terkenal tak banyak bicara, akan sosok ayahanda maupun neneknya.
Di lagu selanjutnya, Just Kidung, pendengar diajak untuk tidak larut dalam kepedihan. Komposisi apik dengan beat yang kencang membuat badan tak hentinya bergoyang mengikuti irama lagu. Budjana sendiri menyampaikan dirinya hanya menulis bagian intro dan refrain. Selebihnya adalah improvisasi para pemain di dapur rekaman.
Lagu berirama balada, Payogan Rain, terdengar sederhana dan mengalir dengan lembut. Menjadi penutup yang manis setelah lima lagu sebelumnya berhasil mengaduk-aduk perasaan.
Secara keseluruhan, Hasta Karma adalah pesan dari Budjana yang semakin kenyang pengalaman dunia di usianya yang tak lagi bisa dibilang muda. Rasanya tak percaya dengan pengakuan Budjana, beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika album ini direkam hanya dalam tempo sehari saja.
Tak semegah Surya Namaskar atau Joged Kahyangan (2013), namun Hasta Karma ialah isi hati terdalam dari Budjana. Dua tembang, Ruang Dialisis dan Payogan Rain, patut menjadi yang terbaik di album apik ini.
(don/vga)