Pesan Feminisme di Selembar Pembalut Wanita

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2015 13:25 WIB
Pesan Feminisme di Selembar Pembalut Wanita Seorang perempuan di Jerman menebarkan pesan feminisme lewat pembalut yang ditempelkan di tiang-tiang lampu di jalanan. (Dok. Instagram/elona_x)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Perempuan Internasional yang diselebrasi seluruh dunia pada 8 Maret, memberi inspirasi bagi Elone Kastratia. Warga negara Jerman itu menebarkan pesan feminisme ke seluruh penjuru tempat tinggalnya, Karlsruhe, Jerman.

Namun, cara yang dipilih Kastratia tergolong unik dan tidak biasa. Ia memilih jalur yang sedikit seni dan nyeleneh. Katsratia menebarkan pesan lewat selembar pembalut wanita yang ditempel di tiang-tiang lampu lalu lintas.

"Saya tidak yakin apakah itu ilegal. Tapi serius, saya tidak peduli. Karena mereka mudah untuk dilepas," tulisnya di Instagram. Pembalut itu memang hanya direkatkan ke tiang lampu lalu lintas, sehingga sekali sentak bisa lepas.


Masing-masing pembalut punya pesan berbeda. Kastratia menempelkan selembar kertas kecil dengan berbagai tulisan. Ia lalu memotret 'hasil karyanya' dan mengunggahnya ke media sosial. Ada pesan yang berbunyi "Pemerkosa memerkosa orang, bukan perkara busananya". Ada lagi yang hanya bertuliskan "Feminism".

Salah satu pembalut yang ditempeli pesan feminisme. (Dok. Instagram/elona_x)
Salah satu pembalut punya pesan agak panjang. "Bayangkan jika pria jijik dengan pemerkosaan, seperti mereka jijik pada menstruasi".

Pesan yang satu itu didapat Kastratia dari sebuah cuitan di Twitter. Pada September 2014, akun bernama StayStrongLeah menulis hal yang sama. Kastratia pun menganggapnya sebagai pesan yang menyentak. Cuitan itu sendiri di-retweet sebanyak hampir 18 ribu kali, dan difavoritkan lebih dari 18.500 orang di Twitter.

Dari situ, Kastratia punya ide melakukan protes terhadap pemerkosaan di Hari Perempuan Internasional. "Saya menunggu waktu yang tepat," katanya pada Huffington Post. Ia pun memutuskan, Hari Perempuan Internasional adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan itu.

"Orang-orang di jalan melihatnya dan memikirkannya! Saya ingin membuat orang peduli pada masalah-masalah itu, dan saya ingin menjadi pembangkit mereka," ucap Kastratia.

Ia mengaku semakin senang saat mengetahui aksi dan unggahannya di Twitter, Instagram, serta Tumblr menjadi perbincangan di dunia maya.

"Saya tidak pernah berpikir akan menjadi seperti ini. Saya hanya ingin membangkitkan orang-orang di kota, karena begitu banyak isu seksisme dewasa ini," katanya lagi menjelaskan.

Respons yang diterima Kastratia memang luar biasa. Ia mendapat banyak pesan dari seluruh dunia. Namun, tak dipungkiri ia juga mendapat beberapa hujatan. Ia dianggap sebagai pembenci pria atau hanya pencari sensasi dan perhatian.

"Saya benar-benar tidak peduli, karena saya tidak membenci pria sama sekali. Bagi saya, feminisme itu berarti persamaan. Soal pencari perhatian, ya, saya memang ingin mendapat perhatian perkara ini!" ujarnya menanggapi.

(rsa/utw)