Belajar Anti-Korupsi dari BW dan Cak Lontong

vga & Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 06/03/2015 14:20 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Seruan anti-korupsi terdengar nyaring di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, saat digalar acara Seni Lawan Korupsi (5/3).

Muak dengan krisis penegakan hukum dan pelemahan gerakan anti-korupsi, membuat para seniman bersekutu menggelar acara Seni Lawan Korupsi, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, (5/3). (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Ki-ka: Direktur PKJTIM Bambang Subekti, Ketua Pengurus Koalisi Seni Indonesia Abdul Aziz, Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno, dan Direktur Kreatif Pabrikurtur Hikmat Darmawan, saat konferensi pers Seni Lawan Korupsi di TIM (5/3). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./Rei/mes/15)
Berbagai karya seni kontemporer bertajuk Seni Lawan Korupsi digelar di Teter Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, hari ini (5/3) sejak pukul 12.00 WIB hingga 22.00 WIB. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./Rei/mes/15)
Acara Seni Lawan Korupsi yang digagas Koala Seni Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta ini, menyuguhkan seni grafis, monolog, stand up comedy, musik, film, hingga orasi, sedari siang hingga malam. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Mantan pelaksana tugas (plt) pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi Mas Achmad Santosa memotret karya seni grafis bertema anti-korupsi yang dipamerkan di TIM. (CNNIndonesia Rights Free/Feri Latief)
Hanya ada satu kata
“Ganteng-ganteng tapi anak koruptor,” demikian bunyi tulisan yang menyertai salah satu seni grafis yang dipamerkan di TIM. Para seniman yang kebanyakan anak muda ini banyak mengambil tema perseteruan KPK dengan Polri. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./Rei/mes/15)
Begitu kelompok Marjinal naik ke atas panggung di selasar TIM, sontak kerumunan penonton membeludak. Mereka antara lain menyanyikan lagu Rencong Maroncong, Negri Ngeri, Marsinah, Boikot, dan Koruptor. (CNNIndonesia Rights Free/Feri Latief)
Bambang Widjojanto alias BW, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KPK, memberikan orasi tentang anti-korupsi di Graha Bakti Budaya TIM, antara lain menyoroti potensi korupsi pasar bebas, pilkada serentak, dan dana Rp 1 miliar per desa. (CNNIndonesia Rights Free/Feri Latief)