Harapan inilah yang mewarnai film ToBa Dreams. Dikisahkan, harapan Sersan Tebe (Mathias Muchus) kepada sang anak tertua, Ronggur (Vino G. Bastian).
Sebagai pensiunan TNI AD, Tebe mendidik Ronggur dengan menerapkan disiplin khas militer. Ia melakukan semua ini demi kebaikan sang anak. Namun kadang kala niat baik orang tua disalahartikan oleh si anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film ini diangkat dari novel berjudul sama yang mengangkat permasalahan sebuah keluarga Batak. Sedikit terkesan narsis, karena sebagian besar kisahnya memang menceritakan pengalaman T.B. Silalahi sendiri.
Terlepas dari kenarsisan sang Opung T.B., Benny membuat film dengan kisah yang menyegarkan. Alur cerita keluarga yang dramatis dan sanggup membuat air mata berlinang di pipi, namun tidak cengeng.
Sutradara kaliber Piala Citra ini sukses membuat film yang sarat nasihat bijak, namun tidak menggurui. Tetap sanggup membuat penonton tertawa dengan lelucon lugas khas Batak.
Bila dari judul dan cerita sangat identik dengan Batak, namun yang ditampilkan masih sangat relevan bagi kondisi keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Sekilas film ini mengingatkan pada serial televisi Keluarga Cemara yang berisikan nasihat-nasihat bijak, tak ubahnya pengganti pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah.
Film ini menyelipkan nilai moral dengan cara yang mudah dimengerti anak muda. Pergaulan Ronggu yang digambarkan di film ini tidak asing bagi anak muda: gemar tawuran, kehidupan malam, termasuk narkoba. Tipikal permasalahan yang lekat dengan kehidupan warga kota besar.
Meski ToBa Dreams memiliki cerita yang sangat bermoral, namun durasi yang memakan waktu hingga hampir tiga jam dirasa masih terlalu lama untuk masyarakat awam. Penonton disarankan membawa bekal camilan yang cukup.
Benny, yang sekaligus bertindak sebagai penulis skenario, memang sudah menyajikan cerita yang kuat, mengalir, dan sanggup membuat penonton bertahan hingga akhir. Namun drama yang kering di bagian pertengahan film bisa menjadi celah penonton untuk beranjak dari tempat duduknya.
Tak perlu dipertanyakan lagi kualitas akting Mathias Muchus. Ia tak ubahnya seorang Batak tulen. Begitu pun Vino yang memamerkan akting prima, gahar dan berbeda dari karakter di film-film sebelumnya.
Kehadiran Marsha Timothy dapat dikatakan memberikan angin segar, meskipun chemistry antara ia dan Vino terkesan tidak alami. Padahal di kehidupan nyata, mereka adalah suami-istri.
Secara umum film ini menyajikan gambar terbaik dari keindahan Danau Toba yang legendaris, termasuk budaya Batak Toba yang masih asli. Tapi di adegan tertentu terlihat kualitas gambar buruk dengan resolusi rendah. Jadi kerikil yang menganggu mulusnya jalan cerita.
Film ini dapat dikategorikan sebagai film terpuji berkat nilai-nilai luhur yang disampaikan di dalamnya namun dengan pengemasan yang tidak menggurui dan terkesan mendoktrin.
ToBa Dreams layak ditonton oleh anak-anak bangsa untuk memahami perbedaan, toleransi, kasih sayang dalam keluarga, visioner, serta cinta terhadap Nusa dan Bangsa. (vga/vga)