“Lo terangsang, ya!” Pertanyaan bernada sengit ini pun berujung perkelahian yang tak kalah sengit antara keduanya. Demikian sepenggal adegan yang tergambar di film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might arahan sutradara muda Lucky Kuswandi.
Secara terang-terangan, film berdurasi 25 menit ini antara lain menyajikan adegan yang tak biasa dieksploitasi di kebanyakan film Indonesia: masturbasi. Sekalipun tak terlampau eksplisit, mau tak mau penonton, terutama pria, dibuat berdebar-debar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian dinyatakan oleh Tunggal Pawestri mewakili organisasi dari Belanda, Hivos, dalam konferensi pers yang berlangsung usai pemutaran The Fox di Institut Francais Indonesia (IFI) di kawasan Thamrin, Jakarta, kemarin (23/4).
Kenyataannya, tabu yang diumbar dalam The Fox menarik perhatian panitia Cannes Film Festival di Perancis. The Fox diikutsertakan dalam Semain de La Critique atau Critic’s Week ke-54. Tentu saja, ini merupakan prestasi tersendiri bagi sinema Indonesia.
Bukan perkara mudah menembus Critic’s Week yang didirikan pada 1962 oleh para jurnalis dan kritikus film yang tergabung dalam French Union of Film Critics. The Fox harus bersaing melawan 1.750 karya film pendek dan 1.100 film fitur dari seluruh dunia.
Sebagaimana isi siaran persnya, The Fox menjadi film pendek pertama yang berhasil masuk dalam kompetisi ini. Sebelumnya, pada 1989, film Tjoet Nja’ Dhien karya sutradara Eros Djarot berhasil terseleksi dalam kompetisi film panjang.
“Kegiatan kami di Cannes: ada tiga kali pemutaran film. Dua kali untuk pers, satu kali untuk publik,” kata Lucky. “Saya juga menghadiri semacam workshop untuk mengembangkan project baru, bersama film maker, produser, dan distributor dari Paris.”
Festival Film Cannes akan digelar pada 13-24 Mei 2015. Thierry Frémaux, mewakili Cannes, menyatakan festival ini merupakan selebrasi seni sinematografi yang menampilkan kebaruan dalam penulisan naskah, genre, juga inovasi visual.
[Gambas:Youtube] (vga/vga)