Semangat Hidup Pepeng 'Menampar' Kaum Muda

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Rabu, 06/05/2015 15:10 WIB
Semangat Hidup Pepeng 'Menampar' Kaum Muda Pepeng adalah tipikal penghibur yang berhasil masuk ke dalam semua usia dan kelas masyarakat karena pandai bertingkah. (Dok. Facebook/Pepeng Soebard)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komedian Indonesia, Ferresta Soebardi alias Pepeng, telah meninggal dunia pada Rabu (6/5) pukul 10.05 WIB.

Pria kelahiran Sumenep, 23 September 1954 itu mengidap penyakit langka yang dikenal dengan nama multiple sclerosis. Pepeng harus memakai kursi roda karenanya.


Walau sudah tiada, sosok Pepeng masih dikenang oleh banyak orang, terutama mereka yang berkarier di dunia hiburan Indonesia.


Salah satunya yang mengenangnya adalah pelaku stand-up comedy Muhadkly Acho. Pria yang terkenal dengan cuitan-cuitan kocaknya di akun Twitter @muhadkly ini sempat mengaku sangat kehilangan Pepeng ketika diwawancarai oleh CNN Indonesia, pada Rabu (6/5).

Acho, begitu pria ini biasa disapa, mengaku terakhir kali bertemu dengan Pepeng sekitar 2013. Ketika itu ia bersama Pandji, Soleh Solihun, Sammy, Raditya Dika dan lainnya berkesempatan tampil sepanggung dengan Pepeng dalam sebuah acara stand-up di sebuah stasiun televisi swasta.

Acara lawak itu memang ditujukan sebagai persembahan untuk Pepeng, namun ia tidak diam menonton, melainkan ikut berkomedi.

Dari atas tempat tidur rumah sakit yang diboyong masuk ke dalam studio, Pepeng menceritakan pengalaman hidupnya yang lucu, salah satunya mengenalkan istilah penyair yang memiliki arti pengangguran nyaris insiyur.

"Momen itu sangat terkenang bagi saya sampai sekarang, karena saya masih ingat bagaimana Mas Pepeng yang sedang sakit mampu tertawa dan membuat orang lain tertawa," kata Acho.

Acho yang juga bekerja kantoran di bidang periklanan ini mengaku sangat terhibur dengan kehadiran Pepeng yang terkenal lewat radio dalam program Sersan Prambors (1987) dan acara televisi Kuis Jari-jari (1992).


"Ketika Mas Pepeng membawakan kuis itu, saya sebagai penonton langsung merasa 'nah, ini dia acara televisi yang menarik,' soalnya dia membawakan acara yang hanya berdurasi tiga menit itu dengan sangat lucu dan intertaktif," ujar Acho yang mengaku sering berusaha menelepon ke acara Kuis Jari-jari, meski tidak pernah berhasil.

"Keponakan saya yang masih balita pun jadi saya ajari duluan cara mengucapkan slogan 'jari jari' ketimbang 'mata genit,'" lanjut Acho tertawa.

Bagi Acho, Pepeng adalah tipikal penghibur yang berhasil masuk ke dalam semua usia dan kelas masyarakat. Dan itu rasanya bukan hal yang mudah, karena berarti seorang penghibur harus pandai-pandai bertingkah.

Kepergian Pepeng dirasa Acho merupakan sebuah kehilangan yang besar, karena jika masih sehat bisa saja Pepeng memandu acara bincang malam yang lebih berkelas seperti yang dilakukan oleh David Letterman.

"Mas Pepeng itu salah satu komedian yang pintar membaca situasi sehingga lawakannya tidak salah kaprah. Dan hal itu harus ditiru oleh komedian zaman sekarang agar tetap menjaga kelas lawakannya," kata Acho.


Pernah menjadi penggemar yang akhirnya tampil sepanggung, Acho mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Pepeng, yang dengan kondisi sakitnya secara tidak langsung memompa semangat orang lain.

"Saya kagum dengan Mas Pepeng, walau sedang sakit keras dan hanya mampu berbaring di ranjang sekecil itu dia masih mampu nulis buku dan lulus S2. Saya merasa sangat tertampar, lho, rasanya saya yang masih mampu beraktivitas normal belum bisa melakukan banyak hal besar seperti Mas Pepeng," ujar Acho menutup pembicaraan.

(ard/ard)