Seni Tak Tenggelam Ditelan Lumpur Lapindo

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2015 12:24 WIB
Seni Tak Tenggelam Ditelan Lumpur Lapindo Dalam setahun, lumpur Lapindo menimbun patung-patung instalasi seniman Dadang Christanto sampai pinggang. (Dok. Facebook/Dadang Christanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sehari sebelum meresmikan pamerannya, 29 Mei tahun lalu, Dadang Christanto berdiri di atas tanggul lumpur Lapindo. Ia melihat karyanya, puluhan patung seukuran manusia setinggi dua meter. Di sampingnya, ada ibu setengah baya.

"Dia berkerudung, berdiri di dekat saya. Dia bertanya, 'Apakah bapak yang membuat patung-patung ini?'" ujar Dadang bercerita pada CNN Indonesia saat dihubungi melalui telepon, Jumat (29/5). Tentu saja Dadang mengangguk.

"Kenapa?" ia balik bertanya.


Dengan tangan sekenanya, perempuan paruh baya itu menunjuk sembarangan ke arah timbunan lumpur. "Rumah saya tadinya di situ," demikian perempuan itu menjawab lirih. Meski sederhana, bagi Dadang itu apresiasi luar biasa. "Saya tidak tega bertanya lebih lanjut, karena tahu dia berduka," ujar seniman asal Tegal itu.

Dari sekelumit itu saja, Dadang sudah bisa merinding. Ia merasa itu lebih dari cukup. "Karya saya bisa berkomunikasi dengan mereka yang jadi korban langsung," ia menuturkan.

Tahun lalu, tepat pada peringatan delapan tahun lumpur Lapindo, Dadang menjadikan titik di sekitar semburan sebagai instalasi karya seni. Ia membuat patung-patung dengan tangan menengadah, seakan sedang nelangsa.

Karyanya, ditambah seni-seni lain, mendapat sambutan luar biasa. Bukan hanya dari media, tetapi juga korban lumpur, bahkan orang asing.

Aksi teatrikal mandi lumpur di tanggul Lapindo, Minggu (24/5). (Dok. Facebook/Dadang Christanto)
Itu cukup membuat Dadang termotivasi untuk menyumbang ide seni pada peringatan lumpur Lapindo tahun berikutnya. Hanya saja, tahun ini ia tidak membuat instalasi, melainkan teatrikal. Harinya pun tak tepat 29 Mei. Dadang beraksi mandi lumpur, pada Minggu (24/5).

Ia membawa sembilan orang, sebagai simbol sembilan tahun lumpur Lapindo. "Kami datang pukul lima pagi, selesai pukul delapan. Mereka mandi lumpur sambil membawa bendera merah putih," katanya. Setelah itu, rombongan teatrikal menancapkan bendera merah putih di titik semburan ke-25, lalu menabur bunga.

Sembilan orang mandi lumpur membawa bendera merah putih untuk memeringati sembilan tahun lumpur Lapindo. (Dok. Facebook/Dadang Christanto)
"Itu titik terdekat dengan semburan," katanya.

Dadang menuturkan, ia ingin membuat selebrasi yang lebih besar. Namun, momennya kurang pas. "Lagipula ini mau puasa, jadi mau refleksi ke dalam. Biasanya sebelum puasa orang tabur bunga juga. Tapi korban lumpur Lapindo hanya bisa menabur bunga di sisi tanggul," ucapnya.

Sebab, makam sanak keluarga mereka sudah tertimbun lumpur yang muncrat sejak 29 Mei 2006 itu. Dadang dan kawan-kawan pelaku aksi teatrikal mencoba mewakili tabur bunga itu.

"Di bawah sekitar lokasi tabur bunga itu ada makam. Dari 10 desa yang tertimbun pasti ada makam, nah itu salah satunya," ujar Dadang. Lokasi itu tidak jauh dari Desa Siring.

Sementara bendera merah putih yang dibawanya, menunjukkan bahwa aksi kata Dadang, merupakan Lapindo bukan lagi persoalan daerah semata, melainkan sudah menjadi problem nasional. Internasional pun belakangan turut menyorot.

Instalasi seni Dadang Christanto dari tahun lalu. (Dok. Facebook/Dadang Christanto)
Secara garis besar, aksi teatrikal peringatan sembilan tahun lumpur Lapindo itu mengandung makna kepasrahan korban. "Kami ingin menyampaikan kami tetap berkumpul, menghadap matahari, bergelimang lumpur, dan survive. Istilah Jawanya, kami enggak mati-mati."

Advokasi lewat seni

Dadang yang kini berdomisili di Australia menuturkan, meski baru terlibat tahun lalu, ia akan terus bersuara untuk korban lumpur Lapindo. Ia menyebutnya advokasi lewat seni. Menurut sejarah seni modern, katanya, seni memang dekat dengan pergerakan sosial.

"Sejak Chairil Anwar, LEKRA, dan seniman-seniman berikutnya begitu. Sudah ada track-nya. Seniman harus kritis dan terlibat jika ada kekuasaan yang menindas," ujarnya.

Apalagi, tahun lalu karyanya mendapat sambutan luar biasa. Peringatan delapan tahun lumpur Lapindo memang diberitakan secara luas. Joko Widodo pun sampai datang, bahkan tanda tangan kontrak politik untuk membela masyarakat.

Instalasi seni Dadang Christanto untuk memperingati lumpur Lapindo. (Dok. Facebook/Dadang Christanto)
Saat ini Jokowi menjadi presiden, itulah waktu yang tepat menagih janjinya. "Janji menyelesaikan pembayaran, kesehatan, pendidikan. Tapi sejauh ini implementasinya di lapangan belum mendapat apa-apa," ujar Dadang.

Sebaliknya, dalam setahun patung ukuran dua meter yang tertancap di timbunan lumpur Lapindo kini mulai terendam. Lumpur sudah mencapai pinggang. Itu bukti kondisi memburuk.

Dadang memahami jika pemerintah butuh proses panjang. Ini melibatkan uang yang banyak dan masyarakat yang luas. "Ada nalar untuk harus menunggu, tapi itu kan ada batasnya juga. Ini sudah luar biasa sabar," tuturnya tegas.

Dadang hanya bisa bersuara lewat seni. Pemerintah yang kemudian harus menindaklanjuti. Jika terus tak terjadi apa-apa, artinya bahaya bagi pemerintah. "Sebab di dalam dan luar negeri kampanye terus berlangsung. Jangan lama-lama, karena ini menyangkut manusia," ujar Dadang menegaskan.

Sebagai seniman yang membela masyarakat tertindas, tidak berdaya, serta tidak menerima keadilan, Dadang mengaku akan terus bersuara lewat seni. Dan waktu terus berjalan, seiring semakin tingginya lumpur menenggelamkan patung-patung survival-nya di tengah tanggul.

(rsa/rsa)