Sebagai “pemanasan” menjelang perhelatan tersebut, dua seniman Indonesia, Anggun Priambodo dan Maryanto, siap terbang ke Nigeria melakukan residensi—semacam magang—selama dua pekan di Lagos.
Residensi ini akan dilakukan sejak Oktober hingga November. Menurut Direktur Biennale Jogja XIII Alia Swastika, program residensi dua arah ini sudah dilaksanakan sejak seri Ekuator #1.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja sama ini terjalin, karena Indonesia dan Nigeria sama-sama memiliki visi membangun jejaring dengan negara yang dilintasi garis Khatulistiwa.
Dua seniman Indonesia yang melaksanakan resindensi di Lagos dipilih oleh kurator. Menurut kurator Biennale Jogja XIII Wok the Rock, Maryanto dipilih karena gagasan karyanya.
Dalam berkarya, Maryanto membalut seni dengan isu ekonomi-politik pertambangan yang agaknya relevan dengan kondisi lingkungan hidup dan masalah di Nigeria. Sebelumnya, Maryanto melakukan penelitian seputar isu pertambangan lokal di Blora dan Bojonegoro.
Sedangkan Anggun Priambodo, sutradara Rocket Rain, akan bekerja dengan komunitas film mandiri di Lagos. Residensinya di Nigeria termasuk penelitian tema mendalam untuk melihat kemungkinan berkolaborasi.
(vga/vga)