Kisah Cincin dalam Balutan Dedaunan di Paris

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2015 10:15 WIB
Kisah Cincin dalam Balutan Dedaunan di Paris Ilustrasi: Menara Eiffel (CNNIndonesia Reuters Photo/REUTERS/Charles Platiau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perancis sering disebut sebagai negara paling romantis di dunia. Pemandangannya, suasananya, budayanya bisa memukau setiap insan manusia. Tak terkecuali bagi seorang perempuan penulis bernama Wuwun Wiati.

Perempuan Indonesia yang sudah tinggal di Perancis, sejak 2006, ini mengungkapkan kecintaannya terhadap Perancis lewat sebuah buku. Karya terbarunya berjudul Segenggam Daun di Tepi La Seine merupakan bentuk nyata rasa kagumnya pada Perancis, terutama kota Paris.

Dalam bukunya ini, ia mengisahkan seorang perempuan pendatang dari Indonesia bernama Ajeng. Di sana ia terpikat oleh seorang laki-laki lokal bernama Yves. Pada suatu saat, Yves melamar ajeng dengan memberikan sebuah cincin yang dibalut dedaunan.


Meski senang dan menerimanya, Ajeng bimbang untuk menikah dengan Yves. Kebimbangannya ini disebabkan kedekatannya dengan laki-laki lain bernama Alain. Ajeng menyukai sosok Alain yang flamboyan dan ganteng. Kebimbangan Ajeng ini pulalah yang memicu konflik dalam novel setebal 304 halaman ini.

Menulis novel tentang perjalanan hidup perempuan Indonesia di negeri orang bukan barang baru bagi Wuwun. Ini kali ke-duanya ia menulis novel sekaligus mengangkat kisah hidup ekspatriat Indonesia di negara lain. Sebelumnya ia menulis Memburu Fatamorgana yang menceritakan kisah iidup Chloe di Abu Dhabi.

Alasan Wuwun mengangkat kisah Ajeng di Perancis adalah pengalamannya yang cukup lama tinggal di negeri itu. Ia mengatakan akan lebih mudah bagi sang penulis untuk menulis karya yang berasal dari pengalaman yang ia alami.

“Saya kalau nulis dimulai dari hal yang menurut saya enggak biasa. Saat saya tinggal di Perancis, saya menemukan banyak hal yang enggak bisa kita temui di Indonesia. Makanya saya ingin berbagi dengan teman-teman di Indonesia,” ungkapnya saat peluncuran buku Segenggam Daun di Tepi La Seine di toko buku Kinokuniya Plaza Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan antara budaya Indonesia dan Perancis, Wuwun memulainya dengan penamaan tokoh dalam cerita. Ia mengatakan memilih nama umum yang pengucapannya sangat berbeda di kedua negara.

Misalnya ia memilih nama Ajeng karena umum di Indonesia, tapi pengucapannya jauh berbeda di Perancis. Di Perancis, Ajeng dibaca Ajyong. Begitu juga Yves yang sulit diucapkan orang Indonesia.

Wuwun mengakui buku-buku di Indonesia yang menceritakan cinta segitiga ataupun tentang Perancis, khususnya Paris, sudah banyak. Namun ia mengatakan ada perbedaan yang sangat besar dalam bukunya ini keimbang buku lainnya.

“Buku ini memang romantis, tapi saya ingin memperlihatkan pemikiran orang Perancis yang berbeda dengan orang Indonesia, terutama terkait keterbukaan. Saya ingin sedikit mengajak pembaca  berpikir di luar kotak bahwa ada cara hidup di luar negeri yang berbeda dengan di sini,” tutur Wuwun.

“Kebanyakan buku Indonesia yang menceritakan kota Paris, lebih menceritakan tentang wisata ke Paris. Namun saya ada di dalamnya, memiliki suami orang sana, dan berinteraksi dengan orang sana. Jadi saya menampilkan Perancis dalam pandangan ekspatriat Indonesia yang tinggal di sana,” ucapnya lagi. (vga/vga)