Buktinya, strategi Rowling berhasil. Ia sempat menjadi salah satu penulis terkaya, bahkan setelah akhirnya seluruh dunia tahu ia sebenarnya perempuan. Rowling kemudian menerapkan strategi yang sama saat merilis novel detektif. Ia berlindung di balik nama Robert Galbraith saat menerbitkan buku baru.
Laman Independent menulis, sudah ada beberapa penulis perempuan yang kariernya mengalami kebuntuan lantaran bersikukuh menggunakan nama mereka. Salah satunya Catherine Nichols. Ia kecewa karena tidak juga diperhatikan agen penulis maupun penerbit karena namanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga di antaranya bahkan langsung meminta manuskrip yang telah ditulis Nichols. Tidak butuh waktu lama baginya untuk kemudian menyadari, apa masalah yang sebenarnya. "Novel saya bukan masalah. Masalahnya adalah saya, Catherine," tulisnya dalam sebuah esai.
"Dia (pria) delapan setengah kali lebih baik dari saya dalam menulis satu buku yang sama. Sepertiga agen yang melihat sinopsisnya ingin membaca lebih, padahal jika saya (perempuan) tidak ada satu pun dari 25 agen," katanya.
Fenomena menarik terjadi saat Nichols mengirim surat yang sama ke agen yang sama, dengan nama dirinya serta samaran prianya. "Ada satu yang mengirim formulir penolakan pada saya sebagai Catherine, bukan hanya ingin membaca buku George tetapi bahkan akan mengirimnya ke agen yang lebih senior," kata Nichols menambahkan.
Kalau pun George ditolak, lanjutnya, penolakan itu terjadi dengan sangat sopan. Mereka menyebut George, nama ciptaan Nichols, sebagai penulis yang rajin, disiplin, dan cerdas.
Nichols akhirnya menyimpulkan, agen penerbit lebih suka nama George karena lebih menjual.
Hetih Rusli, editor fiksi Gramedia Pustaka Utama pernah menjelaskan pada CNN Indonesia, dikuasainya dunia penulisan oleh pria di luar negeri tidak lepas dari arti pekerjaan menulis itu sendiri. Di sana, menulis bisa menjadi profesi utama, tulang punggung keluarga.
Sebabnya apa lagi jika bukan minat baca yang tinggi. Namun sebaliknya di Indonesia, penulis masih dianggap profesi sampingan, yang bisa dikerjakan perempuan. Itu sebabnya nama penulis perempuan di negeri ini lebih laku dibanding penulis pria. Pria bahkan perlu nama pena yang lebih feminin jika ingin laku.
Itu juga berkaitan dengan pangsa pasar penulis. Di Indonesia, konsumen buku masih lebih banyak perempuan, terutama novel. Sebab, menurut Hetih, perempuan lebih punya banyak waktu dibanding pria yang harus kerja keras.
(rsa/rsa)