Martin menceritakan hal tersebut dalam blog pribadinya. Ia tertarik dengan ide dari sebuah kelompok pertunjukan burlesque, Blacklist Burlesque, yang menawarkan konsep berbeda dalam menyajikan cerita A Song of Ice and Fire.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teater Jean Cocteau Cinema yang menjadi lokasi pertunjukan ternyata merupakan milik George RR Martin sendiri.
Sedangkan burlesque adalah jenis pementasan teater yang berkembang sejak abad ke-17 dan menggambarkan kehidupan kerajaan era-Victoria. Dalam pelaksanaannya, burlesque menyajikan kisah kerajaan dengan kemasan jenaka dan mewah.
Puluhan tahun silam, burlesque menjadi tontonan bagi rakyat kelas ekonomi atas dan bangsawan. Selain dengan kisah jenaka, pada era keemasannya saat 1860 hingga 1940, burlesque juga berisikan penampilan striptease yang menjadikan cerita lebih sensual.
Martin jelas mengetahui makna burlesque, pun tampaknya juga memahami konsekuensi bila kisah intrik kerajaan Game of Throne karyanya dibawakan dengan sensual.
"Namun bagaimana dengan striptease, kostum berbulu, yang menjadi pertanyaan orang? Striptease, sebuah aspek penting dari neo-burlesque serta moderen, menjadi standar penampilan pada 1930-an," kata Martin. "Ini hanya menjadi gambaran, bila pembaca memiliki ide menarik untuk penampilan ini, silahkan beri komentar kepada saya."
[Gambas:Youtube] (end/utw)