Diskusi Panas Tema 1965 di Frankfurt Book Fair 2015

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Minggu, 18/10/2015 12:55 WIB
Diskusi Panas Tema 1965 di Frankfurt Book Fair 2015 Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak membicarakan buku bertema 1965 dalam Frankfurt Book Fair 2015, Sabtu (17/10). (Dok. Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair 2015)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suhu di Frankfurt boleh saja mencapai lima derajat Celsius. Namun saat diskusi tentang peristiwa 1965 digelar di paviliun Indonesia yang menjadi Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015, suasana jadi sedikit menghangat.

Mengutip perkembangan informasi yang disampaikan akun Facebook resmi Komite Nasional, Pulau Imaji, diskusi itu dihadiri dua penulis perempuan Indonesia, Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Keduanya pernah menerbitkan novel dengan latar tema 1965.

Dari segi audiensi, diskusi itu termasuk salah satu yang cukup ramai. Tak hanya pencinta sastra dan pemerhati politik atau sejarah, diskusi itu juga dihadiri para eksil atau pelarian, hasil nyata dari peristiwa 1965.


Pada awal diskusi, Leila dan Laksmi mengisahkan latar belakang di balik pembuatan buku mereka yang berjudul Pulang dan Amba. Leila mengaku terinspirasi menulis novel yang juga berbumbu percintaan itu, karena melihat langsung dampak buruk peristiwa 1965.

Ia memang tidak hidup di masa itu. Namun dari ayahnya yang wartawan, Leila sering mendengar betapa peristiwa 1965 dipenuhi rekayasa. Rezim Orde Baru melakukan propaganda di mana-mana.

"Titik baliknya saat usai kuliah, saya singgah di Paris, dan mampir ke Restoran Indonesia yang dikelola para eksil," ujar Leila bercerita. Ia terenyuh melihat orang-orang yang terasing dari tanah kelahirannya sendiri. Mereka terpisah dari keluarga dan diburu.

"Anak-anak tapol bahkan tak bisa bekerja dengan leluasa. Kalau menulis pun harus pakai alias," tutur perempuan yang masih aktif menulis di majalah Tempo itu. Terbiasa soal liputan mendalam untuk laporan khusus, Leila pun menerapkannya untuk menulis Pulang.

Bukunya kini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, salah satunya Jerman. Judulnya diterjemahkan menjadi Heimkehr nach Jakarta.

Serupa dengan Leila, Laksmi juga anak kandung masa modern yang tidak merasakan sentuhan kejamnya tahun 1965. Namun ia kenal banyak eks tapol dari Pulau Buru yang dahulu jadi lokasi pengasingan mereka-mereka yang dianggap PKI.

"Dari teman-teman itulah saya mendengar banyak cerita mengharukan. Mereka mengatakan bahwa peristiwa 1965 tidaklah hitam putih," tuturnya. Ia menemukan humor maupun cerita kemanusiaan yang menyentuh di sela derita.

Amba pun lahir. Ditulis pertama kali dengan bahasa Inggris, kini ia telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, pun Jerman. Alle Farben Rot, judulnya. Buku itu mendapat penghargaan sebagai karya fiksi terbaik 2015 dari luar yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman.

Diskusi antara Leila, Laksmi, dan pengunjung semakin menarik saat penyair Taufiq Ismail turut bergabung. Di akhir diskusi, ia menyampaikan pemaparan nan panjang lebar tentang pencarian perdamaian dalam hidup.

[Gambas:Youtube]

Taufiq menyampaikan pernyataan dua hari sebelumnya tentang rekonsiliasi. "Kedua belah pihak sama-sama punya dan membuat kesalahan. Sekarang semuanya harus dilupakan dan dikubur dalam-dalam," ucapnya, mencoba jadi penengah.

Namun ucapan Taufiq ditimpali pengunjung yang rupanya salah satu eksil. Ia berkata, peristiwa 1965 tak bisa dilupakan begitu saja. Leila pun sepakat. Ia tentu merindukan rekonsiliasi, namun bukan dengan pemakluman. "Jangan sampai itu hanya menegaskan kekebalan hukum," penulis Malam Terakhir itu menegaskan.

Sebelum menjadi diskusi di Frankfurt Book Fair, tema 1965 sempat menjadi perdebatan di antara para penulis yang hendak berangkat ke rimba buku tertua itu. Namun Komite Nasional menegaskan tema Indonesia beragam, apalagi mengusung "17.000 Islands of Imagination." (rsa/rsa)