Keleluasaan ini juga dihadirkan di perhelatan seni rupa kontemporer, Jakarta Biennale, melalui program Seni Rupa Kita, di mana pengetahuan dasar seni rupa disosialisasikan kepada kaum muda.
Jakarta Biennale 2015 akan diadakan di Gudang Sarinah, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, mulai pekan ini hingga Januari 2016 mendatang. Kelak program Seni Rupa Kita akan diestafet ke lokasi lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain aktivitas nyata, Seni Rupa Kita juga dihadirkan dalam bentuk buku yang akan dirilis, pada Desember mendatang. Tujuannya, memberikan pemahaman dasar mengenai seni rupa untuk remaja.
Buku tersebut merupakan hasil kerja sama sejumlah guru seni rupa Indonesia yang diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pelajar, orang tua, bahkan guru.
Nantinya, buku itu akan disebarkan ke berbagai sekolah dan dapat diakses oleh publik dengan cara mengunduhnya di laman resmi jakartabiennale.net.
Menurut Ade, banyak anak muda Jakarta yang menyukai seni. Salah satu buktinya, banyak siswa SMP yang melukis di dinding-dinding jalan, atau dikenal sebagai street art.
Namun diyakini Ade, mereka belum tentu mengetahui sejarah seni, juga street art. Maka dengan adanya Seni Rupa Kita, diharapkan pengetahuan dasar dan sejarah seni rupa dapat ditransfer kepada mereka.
"Dengan adanya program ini, diharapkan akan muncul kurator-kurator baru dari luar Jawa," tutur Ade.
Selain Seni Rupa Kita, juga ada program Duta Seni. Sebanyak 17 pelajar dari sembilan SMA yang ditunjuk sebagai Duta Seni akan diberi mandat menyebarkan pengetahuan seni rupa kepada kawan-kawan sebaya melalui berbagai proyek seni rupa buatan sendiri.
Namun sementara ini, program tersebut belum dijalankan, mengingat ragam kegiatan seni rupanya masih dirancang dan dimatangkan.
"Ini baru langkah awal," kata Ade. "Program ini akan kami lakukan dalam waktu jangka panjang."
(vga/vga)