'Siti,' Kisah Wanita Frustrasi di Pesisir Parangtritis

Fadli Adzani, CNN Indonesia | Minggu, 22/11/2015 16:41 WIB
'Siti,' Kisah Wanita Frustrasi di Pesisir Parangtritis Poster film Siti (Detikcom Internet/Fourcolors Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada kalanya pengangkatan isu perempuan di film layar lebar masih dianggap tabu di Tanah Air. Tidak sedikit orang menganggap isu tersebut dapat menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat.

Namun belakangan ini, sineas Indonesia berani mengangkat isu tentang perempuan sebagai tema utama film-film mereka. Salah satunya, Ifa Isfansyah, yang kali ini bertindak sebagai produser film Siti.

Siti menceritakan seorang perempuan bernama Siti (Sekar Sari), penjual peyek jingking di sekitar Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Film ini diputar pertama kali di perhelatan Jogja Netpac Asian Film Festival, pada tahun lalu.


Diceritakan, suami Siti, Bagus (Ibnu Widodo), lumpuh karena kecelakaan. Semenjak itu, Bagus hanya terbaring di kasur, tidak kuasa mencari nafkah. Padahal mereka memiliki satu orang anak yang harus dinafkahi.

Keadaan semakin memburuk ketika Bagus mengetahui Siti bekerja sebagai pemandu karaoke dan menjual keindahan badannya kepada para pengunjung tempat karaoke ilegal itu. Kesal, Bagus pun tidak mau berbicara lagi dengan Siti.

Padahal, Siti melakoni pekerjaannya itu semata demi menafkahi seluruh anggota keluarga, termasuk suaminya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Setiap malam, Siti harus meladeni para pria hidung belang yang ingin menyaksikan Siti berlenggak-lenggok dengan indahnya. Sampai suatu saat, ia bertemu polisi tampan bernama Gatot (Haydar Saliz).

Pertemuan Gatot dengan Siti tak disengaja. Suatu kali, Gatot menggerebek tempat karaoke ilegal itu. Sejak saat itu, Gatot berusaha mendekati Siti.

Sampai pada suatu malam, Gatot bersama teman-temannya datang ke tempat karaoke di mana Siti bekerja. Malam itu, Siti mabuk berat karena meminum bir oplosan, yang membuatnya tidak dapat berpikir jernih.

Melihat situasi seperti ini, Gatot yang sudah cinta mati dengan Siti, langsung meminang. Siti pun galau, ketika suaminya sedang kesal dan terbaring lumpuh di kasur, ia dihadapkan pada seorang polisi ganteng yang hidupnya sudah mapan.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya provokasi dari teman-teman Siti, yang memaksa Siti untuk menerima pinangan sang polisi tampan tersebut. Akhirnya, Siti pun membuat keputusan, yang mengakibatkan Gatot kaget, sedih serta murka.

[Gambas:Youtube]

Film yang disutradari oleh Eddie Wicaksono ini tampaknya berhasil menarik minat para penonton yang penasaran dengan alur cerita Siti yang terbilang berani.

Sekar Sari, yang tidak memiliki pengalaman bermain film, pun dengan lihai menunjukkan seni akting yang tidak kalah dengan aktris papan atas.

Raut wajah Siti berhasil menggambarkan amarah dan kebingungan seorang wanita yang dihadapkan dua pilihan hidup dan mati, yang membuat film Siti semakin menegangkan dan menarik untuk ditonton.

Namun sayang, semua percakapan di film Siti ini menggunakan bahasa Jawa, yang tentu saja tidak semua orang mengerti. Walaupun dilengkapi subtitle berbahasa Inggris, belum tentu rakyat Indonesia dapat mengerti bahasa Inggris.

Dikemas dalam warna hitam putih, film Siti berhasil merepresentasikan kehidupan seorang wanita Parangtritis yang tidak berwarna itu.

Pemeran-pemeran amatir lain yang mewarnai film Siti ini antara lain Bintang Timur Widodo, yang menjadi anak Siti dan Bagus, juga ada Titi Dibyo, Delia Nuswantoro dan Chelsy Bettido.

Siti pun menjadi salah satu film terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini, dan menyabet nominasi Film Terbaik, Sutradara Film Terbaik, Penata Kamera Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik dan Penata Musik Terbaik.

Selain itu, Siti juga telah merasakan kerasnya kompetisi festival mancanegara, seperti Vancouver International Film Festival, Hamburg Film Festival, dan masih banyak lagi.

(vga/vga)