Terlalu Sensual, Adam Lambert Dipetisi Warga Singapura

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 27/11/2015 18:17 WIB
Terlalu Sensual, Adam Lambert Dipetisi Warga Singapura Adam Lambert diminta tidak tampil di Singapura karena aksi panggungnya terlalu sensual. (Getty Images/Christopher Polk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesona Adam Lambert boleh saja membius penonton televisi atau penggemarnya di Amerika. Namun segelintir masyarakat Singapura sepertinya sudah cukup "kebal."

Reuters memberitakan, hampir 14 ribu masyarakat Singapura menandatangani petisi yang meminta Lambert tidak pentas di perayaan tahun baru di Negeri Singa. Alasannya, penampilan itu terlalu seksual.

Petisi daring yang tengah heboh di Singapura itu ditujukan kepada penyelenggara konser tahun baru, yakni Mediacorp. Pemerintah Singapura dan Menteri Kebudayaan Grace Fu juga menjadi target.


Permintaan itu berhubungan dengan kondisi Lambert yang sudah sejak lama terbuka sebagai homoseksual. Menurut masyarakat, kehadiran Lambert tidak pantas dan tak sesuai nilai yang dianut publik Singapura.

Hubungan sesama jenis masih termasuk hal tabu dan sangat dilarang di Singapura.

Lambert memang pernah membuat heboh panggung American Music Awards pada 20009 lalu. Pemenang ke-dua American Idol itu menimbulkan kontroversi lantaran tiba-tiba mencium kibordisnya di atas panggung.

Yang menjadi masalah, kibordis itu seorang pria. Bukan hanya itu, Lambert juga memeragakan kegiatan seksual dengan para penari latarnya, di panggung yang sama.

Itu yang kemungkinan besar menjadi kekhawatiran publik Singapura. Ditambah lagi, video klip Another Lonely Night dari Lambert menyuguhkan penari bugil pria.

"Kami meminta penyelenggara 'Countdown 2016' untuk mengenali dan menghormati nilai-nilai yang dianut mayoritas masyarakat Singapura, yang telah menyuarakan keinginannya untuk memelihara moral nasinal kita," demikian tertulis di petisi yang diunggah anonim.

Penggagas petisi itu mengaku apa yang ia lakukan merupakan representasi banyak orang tua yang khawatir dampak pentas Lambert. Namun Mediacorp meyakinkan, konser itu bisa ditonton semua umur dan sudah disesuaikan agar tak melanggar aturan penyiaran.

Di sisi lain, ada pula sekelompok masyarakat Singapura yang membuat petisi tandingan karena justru tidak ingin penampilan Lambert diganggu gugat. Petisi yang menyatakan agar Lambert tetap tampil itu baru ditandatangani 135 orang.

Pelarangan konser karena urusan moral, berkali-kali terjadi di Asia Tenggara. Warga Filipina menuntut One Direction untuk membatalkan konser pada tengah 2014, setelah mereka kedapatan merokok ganja.

Di Malaysia dua tahun lalu, Lamb of God dilarang tampil oleh Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia. Lamb of God dianggap melanggar nilai agama dan budaya. Band metal itu disebut menyebarkan satanisme.

Kesha juga pernah mengalami nasib yang sama di Malaysia. Lagi-lagi alasannya agama dan budaya. Kesha dianggap memiliki lirik lagu yang tidak senonoh dan busananya seksi.

Di Indonesia, siapa tak ingat bagaimana penggemar Lady Gaga sudah menanti-nantikan kedatangan Mother Monster pada 2012. Namun, kepolisian melarangnya lantaran alasan keamanan. Sebagian pihak memaksa Gaga tidak pentas, dengan alasan gaya yang vulgar. (rsa/vga)