Sitor Situmorang Bagai Dua Sisi Mata Uang

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2016 08:41 WIB
Sitor Situmorang Bagai Dua Sisi Mata Uang Sitor Situmorang punya kehidupan pribadi yang tak banyak orang tahu. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gulontam memang menyandang nama Situmorang di belakangnya. Namun jika ditanya soal sisi pribadi sang ayah yang seorang budayawan ternama, Sitor Situmorang, ia tak berani menjawab terlalu banyak. Gulontam mengaku lebih dekat dengan sang ibunda.

"Sejak awal, Bapak bukan tipe ayah yang standar," ujar Gulontam pada CNN Indonesia saat ditemui di Kuningan, Jakarta, Selasa (19/1). Gulontam menggambarkan sang ayah seperti sosok yang hidup di "dua dunia." Fisiknya ada, tapi pikirannya melayang.

Sitor juga sosok yang pendiam. Ia jarang berbicara pada anak-anaknya. Mengomel hanya saat rapornya jelek atau Gulontam pulang terlalu malam karena menonton layar tancap. Tak heran, keenam anaknya takut padanya.


Sitor punya alasan jarang di rumah. "Itu periode yang sangat intens. Dia sudah masuk ke dalam politik bersama Soekarno," kata Gulontam. Sitor banyak ke luar negeri sebagai perwakilan budaya dari Indonesia. Soekarno memintanya mengemban tugas negara.

Sebelum menjadi sastrawan dan penyair, Sitor mengawali karier sebagai jurnalis. Namun sejak sekolah, bakat bahasanya sudah terlihat. Ia bisa menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa Batak. Ia menguasai bahasa Jepang, Jerman, Perancis, autodidak.

Berbagai buku ia lahap. Hampir semua pemikiran filsuf dunia ia baca, termasuk Nietzsche. Ia selalu membawa buku catatan kecil dan pensil atau bolpoin untuk menuliskan pemikiran-pemikirannya. Ia juga punya mesin ketik kecil yang suaranya sering didengar Gulontam di rumahnya.

Belakangan, Sitor menjadi salah satu orang kepercayaan Soekarno dari segi budaya. Ia diutus ke banyak negara, termasuk China dan lainnya. Beberapa sajak dan esainya terinspirasi kunjungan-kunjungan itu.

Tapi Gulontam hanya ingat Sitor dari cerita-cerita ibunya dan teman-teman dekat sang ayah. Ia juga mengenal penulis sajak Malam Lebaran itu berdasarkan pengamatan pribadi belakangan. Salah satu penilaian Gulontam adalah soal idealisme dan uang.

"Bapak seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, dia tidak tahu nilai uang. Dia tidak pernah tahu bagaimana mencari uang untuk keluarga. Dia tidak pernah menguantifikasi karyanya untuk dibawa pulang sebagai naskah," tutur Gulontam menerangkan.

Namun di sisi lain, sikap itu membuat Sitor tak bisa "dibeli." Soeharto pun tak pernah bisa "membelinya" meski sudah dipenjara sembilan tahun. "Dia tetap tidak berubah. Bagi orang lain time is money, bagi dia no time for money. Uang terlalu remeh bagi dia untuk dipikirkan," Gulontam melanjutkan.

Tak ayal, keluarga yang harus menanggung itu. Hingga akhir hayatnya, Sitor tidak memberikan rumah untuk istri dan enam anaknya. "Kami terlunta-lunta, numpang sana-sini, diusir sana-sini. Itu dua sisi."

Sitor bukan tak pernah ditegur teman-teman dekatnya soal itu. Mereka mendorong Sitor memanfaatkan haknya untuk difasilitasi rumah dinas oleh negara. Saat itu kebetulan ia anggota MPRS dari sosok budaya. Namun hak itu pun tak pernah diminta oleh Sitor.

"Dia tidak mau merendahkan diri dengan meminta sesuatu pada pemerintah untuk keluarganya. Buat dia itu sesuatu yang 'ah, sudahlah,'" Gulontam menggambarkan ayahnya.

Nilai-nilai semacam itu tak pernah secara sengaja diturunkan Sitor pada anak-anaknya. Gulontam dan saudara-saudaranya yang lain hanya mampu mengamati dan menilai. Mereka hanya mewarisi "rasa bahasa" dan darah seni Sitor, itu pun, sekali lagi tak disengaja.

Namun Gulontam dan beberapa rekan dekat ayahnya seperti budayawan Afrizal Malna serta sejarawan pemerhati Sitor, JJ Rizal, tak ingin nilai-nilai itu lenyap begitu saja. Termasuk soal karakternya di mata internasional. Sitor dikenal sebagai budayawan yang karyanya mendunia namun tak pernah meninggalkan akar keindonesiaannya.

Sastra tidak bisa punya arti tanpa ruh, jiwa. Ruh Bapak adalah keindonesiaan.Gulontam Situmorang
Karena itu mereka menyelenggarakan acara di momen-momen tertentu yang terkait Sitor. Rabu (20/1), setahun lebih satu bulan setelah kematian Sitor, mereka menggelar instalasi teks bertajuk "Pasar Senen, Sitor dan Harimau Tua" di TIM, Jakarta.

"Bapak bergerak di sastra, tapi juga pemikir budaya. Sastra tidak bisa punya arti tanpa ruh, jiwa. Ruh Bapak adalah keindonesiaan. Lebih akar lagi, kebatakan," tutur Gulontam. Ia ingin itu ditonjolkan menjadi sumber pencarian jati diri bangsa.

Menurut Gulontam, permasalahan anak muda sekarang adalah "tersesat" dalam pencarian jati diri. Mereka "mencomot" sana-sini, termasuk dari Barat maupun Timur Tengah.

Sitor bisa menjadi contoh. Namun banyak juga seniman Indonesia lainnya yang sempat "terberangus" oleh Orde Baru, saat budaya hanya dijadikan kosmetik oleh pemerintahan. "Kami ingin, ayo sadari, banyak mutiara yang ada di Indonesia," ia menegaskan.

Dalam acara "Pasar Senen, Sitor dan Harimau Tua" itu, akan ada buku kumpulan puisi Sitor yang bisa dibilang cukup lengkap. "Sampulnya kami bikin lux karena tujuan kami juga bisa jadi materi untuk universitas," kata Gulontam. Ia juga ingin membangun acara diskusi budaya rutin.

"Itu cita-cita kami, membuka dialog dan peluang bagi kaum muda Indonesia yang tertarik untuk menulis," lanjutnya. Kelak mungkin akan ada hadiah, bisa berupa buku-buku Sitor maupun kunjungan ke kampung halamannya di Samosir, pinggir Danau Toba.

Gulontam juga berniat membangun ruang budaya di areal pemakaman Sitor itu. "Bisa dijadikan ziarah budaya," ucapnya bermimpi. Dengan demikian, ia pun berharap bisa membidani lahirnya Sitor-Sitor baru Indonesia, yang berkarakter dan jati diri. (rsa/vga)