Momen Haru Pram Selepas Pulau Buru

Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer, CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2016 12:41 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Kerinduan yang membuncah menjadi kekuatan bagi Pramoedya Ananta Toer untuk menepati janjinya kepada keluarga selepas Pulau Buru.

Bagai kisah Les Misérables karya penyair Perancis Victor Hugo, kehidupan Pramoedya Ananta Toer pun sengsara. Lahir dan besar di era kolonial, dewasa di era rezim Orde Lama dan Orde Baru. Tapi si anak malang bertransformasi menjadi penulis cemerlang.
Pram, nama aliasnya, menjalani masa dewasa di era rezim Orde Lama dan Orde Baru yang sarat tekanan. Agaknya satu-satunya momen bahagia bagi pria kelahiran Blora, 6 Februari 1925 ini, kala menyunting Maemunah Thamrin, dan membina rumah tangga.
Pasca Indonesia merdeka, Pram menulis buku Keluarga Gerilya (1950) tentang keluarga yang terpaksa menanggung konsekuensi tragis politik era Revolusi, kala kaum Indonesia menentang kolonial Belanda. Selanjutnya, Pram juga menulis buku-buku lain.
Pram sangat mencinta dunia tulis menulis. Dalam wawancara dengan The Progressive, pada 1999, Pram mengaku tak memiliki tendensi lain kecuali menulis.
Tanpa alasan jelas, Pram yang
Wajar bila Pram sempat tak mengenali anak-anaknya lagi. Selama diasingkan di Pulau Buru, ia sama sekali tak pernah dijenguk keluarganya. Menurut Astuti kepada CNN Indonesia.com, Pram khawatir bila keluarga menjenguknya, jangan-jangan nanti malah ikut ditahan.
Pram tetap menepati janjinya tanpa ragu, sekalipun anak-anaknya telah beranjak besar. Dengan tubuh lebih berisi karena banyak bekerja di Pulau Buru, ia menggendong Astuti. Keluarga menyambut suka cita kedatangan Pram di Salemba, Jakarta, pada 21 Desember 1979.
Acara syukuran menyambut Pram di Jakarta setelah 14 tahun tinggal di pengasingan di Pulau Buru. Pram menuliskan pengalaman di Pulau Buru dalam tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, yang kemudian diterjemahkan ke dalam 20 bahasa.