Selamat Ulang Tahun, Pram

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2016 11:45 WIB
Selamat Ulang Tahun, Pram Potret Pramoedya Ananta Toer bersama karya sastranya. (Dokumen Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pramoedya Ananta Toer dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pram, begitu dia akrab disapa, telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Selama 81 tahun, hidup Pram (1925-2006) menyisakan kenangan bagi anggota keluarganya. Memori tentang Pram bukan hanya berupa karya, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan yang tak satu pun keluarganya bisa lupa.

Di mata Astuti Ananta Toer, putrinya, Pram adalah sosok yang disiplin dan tegas. Saat ia bekerja yang ditandai dengan bunyi ketukan mesin tik di ruangannya, kata Astuti, tak seorang pun berani mengganggu. Apalagi jika sang istri sedang tidur.


“Tidak ada yang boleh ganggu. Jalan saja harus jinjit,” kata Astuti, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/2).

Tapi menurut cerita cucu Pram, Vicky Septian Ananta Toer, ia dan saudara-saudaranya justru sering mengganggu saat sang opa bekerja. Mereka tak ragu berlarian di sekitar mesin tik opanya.

"Kalau opa kerja, kita main-main aja,” kata Vicky.

Vicky hanya sepakat soal ketegasan. Apalagi jika berkaitan dengan kekerasan. Ia ingat betul, sang opa pernah mematahkan pedang mainan barunya yang sedang digunakan bersama sepupunya. Kata Vicky, opanya tak ingin keluarganya jadi pelaku dan korban kekerasan.

Pram lahir di Blora, 6 Februari 1925, kala cengkeram kolonial Belanda di Indonesia masih kuat. Usia Pram seharusnya mencapai 91 tahun tepat hari ini, Sabtu (6/2). Namun napasnya telah berhenti di Bojonggede, 30 April 2006 silam.

Pram meninggal dikelilingi keluarga besar yang mencintainya. Tapi seperti yang sering ia dengungkan, karena ia menulis, suaranya takkan padam ditelan angin, akan abadi hingga jauh kemudian hari.

"Benar kata Ben Anderson, sampai 500 tahun lagi pun Pram akan tetap dikenal," ujar Astuti, dengan mata menerawang mengenang sang ayah. (les/les)