Pram, Hidup Mati Sang 'Hugo' Indonesia

Vega Probo, CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2016 09:11 WIB
Pengalaman pahit semasa hidup Pramoedya Ananta Toer membuahkan warisan manis: nama besar dan mahakarya yang mendunia. Pramoedya Ananta Toer menulis dan terus menulis. (CNN Indonesia Rights Free/Dok. Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Mungkin suatu hari nanti, saya bisa menjadi penulis hebat seperti Hugo.” Demikian harapan yang didaraskan Minke, karakter utama di Bumi Manusia, buku karya Pramoedya Ananta Toer yang dirilis pada 1980.

Hugo yang dimaksud Pram bisa jadi Victor Marie Hugo, penyair dan pelukis terkenal Perancis yang hidup era 1802-1885. Novelnya yang sangat terkenal, Les Misérables (1862) dan The Hunchback of Notre-Dame (1831).

Kini, siapa pun tahu Pram, panggilan akrab sang penulis, benar-benar menjelmakan dirinya sebagai sang Hugo Indonesia. Karya-karyanya dikenal dan bahkan dipelajari di sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia.


Dalam wawancara dengan majalah online The Progressive, pada 1999, Pram mengaku nyaman dengan perannya sebagai Hugo Indonesia: penulis yang selamanya tetap menulis, sama sekali tak melirik profesi lain.

“Saya merasa [nyaman] berada di tempat yang saya pilih bagi diri saya sepanjang hidup. Saya merasa tempat ini lebih tepat bagi saya saat ini dibanding menjadi anggota parlemen atau perdana menteri atau presiden.”

Kecintaan Pram pada bidang tulis menulis direfleksikan dalam Bumi Manusia, lewat pernyataan salah satu karakternya, “Tanpa kecintaan terhadap literatur, kamu bakal disamakan seperti kebanyakan hewan pintar.”

“Saya tak bisa melakukan hal lain, selain menulis,” kata Pram kepada The Progressive. “Awalnya saya tak punya tendensi untuk menulis. Tapi saya gagal mencoba pekerjaan lain, jadi saya memutuskan menjadi penulis.”

Pram lahir di Blora, 6 Februari 1925, kala cengkeram kolonial Belanda di Indonesia masih kuat. Menurut laman Notable Biographies, Pram remaja menamatkan sekolah pada 1941, seiring meletusnya Perang Dunia II.

Walau hidup di zaman susah, tak melunturkan kecintaan Pram pada ilmu pengetahuan. Apalagi sang ayah, Mastoer Imam Badjoeri, adalah pendidik dan anggota Budi Utomo. Pram diwarisi kepintaran dan keteguhan hati.

Dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pram menyebut Mastoer sebagai “orang Jawa yang memiliki sedikit rasa mistik terhadap kata-kata.” Katanya, nama Pramoedya merupakan silabel dari “Yang Pertama di Medan [Perang].”

Demi melanjutkan studi di Surabaya, Pram menabung penghasilan selama membantu ibunya, Saidah, berjualan beras. Tapi perang keburu pecah. Semasa kolonial Jepang menguasai Indonesia, Pram bekerja di agensi berita Domei.

Begitu akhirnya Indonesia merdeka, pada 1945, Pram hijrah ke Jakarta, dan berkutat dengan jurnal pro-kemerdekaan. Namun Belanda yang belum sepenuhnya angkat kaki, malah menjebloskan Pram ke penjara, antara 1947-1949.

Di dalam penjara, Pram membaca kopi novel epik Of Mice and Men karya John Steinbeck yang diberikan oleh sipir penjara. Ia juga tetap menulis untuk meretas tekanan batin sebagai orang yang terbelenggu kebebasannya.

Hasilnya, novel pertama Perburuan, yang lantas dipublikasikan pada 1950. Sejak itu, Pram aktif menulis novel, dari Keluarga Gerilya sampai Cerita dari Blora (1952). Tapi kemudian ia ditahan rezim Orde Lama, pada 1960.

Setelah bebas, ia berkiprah di media massa sayap kiri Bintang Timur, pada era 1962-1965. Pasca peristiwa G30S yang dituding dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno tumbang.

Soeharto, yang kala itu menjabat Panglima Kostrad, mengambil alih kekuasaan dan memimpin Orde Baru. Namun Pram, lagi-lagi, ditangkap dan dipenjara, pada Oktober 1965. Empat tahun kemudian dipindahkan ke penjara Pulau Buru.

Dalam penjara, Pram tetap menulis, walau tak mudah. “Sebelum mendapat izin, saya harus menulis di balik punggung penjaga. Lama sekali saya tidak diizinkan menulis, jadi saya berlisan,” kata Pram kepada The Progressive.

Bahkan hingga era 1971-1973, menurut Pram, para penghuni penjara tak diizinkan bersosialisasi satu sama lain. Namun Pram tetap berlisan kepada kawan-kawannya, dan merekalah yang menuliskan dan merangkumkan lisan Pram.

“Hanya garis besarnya saja yang dilisankan. Detailnya ditulis belakangan, begitu kertas tersedia,” kata Pram kepada The Progressive. Belakangan, kisah pilunya di Pulau Buru terangkum dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Pada 1979, Pram dibebaskan dari penjara berkat campur tangan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, dan menjadi tahanan rumah di Jakarta. Beruntung, ia diperbolehkan tetap menulis, dan lahirlah tetralogi Pulau Buru.

Keempat buku itu: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Begitu akhirnya dicetak, keempat buku ini menjadi mahakarya yang dikenal di berbagai belahan dunia dan diterjemahkan ke dalam 20 bahasa.

Belakangan baru diketahui, Minke tak lain penjelmaan sosok nyata jurnalis bernama Tito Adi Surya yang berperan besar mengusung semangat nasionalisme Indonesia era awal. Sosok Pram sendiri pun tak lagi sembunyi.

Memasuki era 1990-an, terutama pasca tumbangnya rezim Orde Baru, Pram merasaka kebebasan sebenar-benarnya. Ia bebas melanglang buana untuk menerima penghargaan atau sekadar bepergian. Ia juga tetap menulis, tentu saja.

Pram menyelesaikan buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, pada 2001. Namun tak banyak buku yang diselesaikan, karena Pram sakit-sakitan. Pada 30 April 2006, Pram menutup mata untuk selamanya.

Kepergian Pram di usia 81 tahun juga diliput media massa asing, salah satunya New York Times. John McGlynn dari Yayasan Lontar menyatakan pujian, dikutip New York Times, “Tak ada penulis Indonesia lain yang sesukses Pramoedya.”

(vga/vga)