Anak Cucu Pram 'Kebal' Cap Komunis

Rizky Sekar Afrisia & Ranny Virginia Utami & Rizky Sekar Afrisia & Teguh Yuniswan, CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2016 14:12 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Cap komunis melekat pada Pramoedya Ananta Toer saat ia diasingkan ke Pulau Buru selama 14 tahun. Ia hanya penulis, tapi suaranya yang tak pernah padam ditelan angin, dianggap berbahaya menembus zaman.

"Aku komunis," begitu Pram pernah menulis. Ia sendiri merasa dianggap komunis. Disiksa, diasingkan, disuruh bekerja keras. Tapi ia melanjutkan, "Tahun-tahun belakangan tuduhan itu mereda karena dia banyak dibutuhkan pemuda."

Tulisan itu tidak pernah diterbitkan. Hingga kini ungkapan hatinya di atas kertas itu masih ada di mesin tik Olympia yang teronggok di rumah terakhirnya.

Dicap komunis pada masa Orde Baru ibarat "setor nyawa." Tapi beruntung keluarga Pram tidak ikut menanggung susahnya. Astuti Ananta Toer, anak ke-empat Pram mengakui, ia tak merasa pernah dianggap komunis oleh lingkungannya.

Salah satu cucunya bahkan sekarang bisa menjadi dosen yang mengajar di tidak hanya satu universitas di Jakarta.

Pram boleh saja diasingkan oleh rezim. Tapi karyanya tetap dikenang sampai sekarang. Cap komunis yang katanya merupakan warisan turun-temurun pun, ternyata tak berlaku bagi keluarga Pram.