Sekelumit Cerita Soal Hobi Bakar Sampah Pramoedya

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Sabtu, 06/02/2016 17:12 WIB
Sekelumit Cerita Soal Hobi Bakar Sampah Pramoedya Kebiasaan Pramoedya Ananta Toer yang paling dikenal adalah suka membakar sampah. (Dok Pribadi Pramoedya Ananta Toer)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Pram itu sepanjang hidupnya bekerja," kata Astuti Ananta Toer, putri ke-empat Pramoedya Ananta Toer saat dikunjungi CNNIndonesia.com di kediamannya, Bojonggede, Jumat (5/2). Itu merupakan rumah terakhir Pram berkarya sekaligus menutup mata.

Di rumah itu, Pram biasa terjaga sejak pukul dua dini hari. Ia lantas mulai membaca koran, membuat catatan, dan ketukan mesin tiknya mulai terdengar nyaring dari ruang kerja. "Tak tok tak tok." Biasanya ia menulis ensiklopedia, proyek yang ia impikan dan belum terselesaikan sampai sang sastrawan kenamaan Indonesia itu mengembuskan napas terakhirnya.

Pekerjaannya berlanjut saat koran datang pukul enam pagi. Pram membacanya, memilah-milah mana yang akan dijadikannya kliping. "Sekitar pukul tujuh sampai delapan, baru dia istirahat," lanjut Astuti. Tapi yang dimaksudnya istirahat, bukan berleha-leha atau berbaring di atas kasur, meski usianya sudah senja.


Pram berjalan ke halaman di samping rumahnya. Mulai membakar sampah. Sang penulis Bumi Manusia itu memang hobi membakar sampah. Bahkan sejak masih tinggal di Utan Kayu, Jakarta ia juga sudah dikenal sebagai pembakar sampah. Namun, di Bojonggede, Pram lebih leluasa. Tak ada tetangga yang terganggu dengan bau asapnya. 

Pram seperti punya keterkaitan personal dengan sampah. "Untuk meluapkan emosi. Apalagi dia bakar sampah sampai habis tak bersisa. Itu kepuasan buat dia," kata Astuti.

Itu juga berkaitan dengan hidupnya saat masih berjuang melawan Jepang. Kata Astuti, sang ayah tinggal di dekat tempat membuang sampah. Ia juga biasa membakarnya di sana. Tapi dari tanah tempat membakar sampah itu, Pram juga menanam sayur-sayuran yang kemudian ia konsumsi sendiri.

"Tumbuhnya bagus. Jadi mungkin dia ada rasa terima kasih sama sampah."

Selain itu, Astuti melanjutkan, Pram juga termasuk orang yang suka kebersihan. Sampah tak bisa dibiarkan begitu saja. Pernah suatu ketika, dengan mobil gres, Pram mengajak anak-anaknya, jalan-jalan. "Nduk, ayo jalan-jalan," ia semangat.

Ternyata Pram tak sekadar jalan-jalan. Ia punya "misi" khusus terkait sampah. Sampai di Jalan Bogor Baru, ia meminta berhenti. "Papi mau turun di sini," katanya di tengah jalan.

Ia lantas turun dari mobil anyarnya dan memunguti sampah di jalan. "Orang-orang heran. Mobil baru kok dipakai buat sampah," tutur Astuti disambung tawa. Itu pun tak dilakukan sekali atau dua kali semata. Pram sering berjalan-jalan dan memunguti sampah untuk dibakar. 
"Untuk meluapkan emosi. Apalagi dia bakar sampah sampai habis tak bersisa. Itu kepuasan buat dia." Astuti


"Jalan ke mana, turun, ambil sampah. Kalau ada ban bekas dia paling senang. Katanya kalau buat bakar sampah enggak mati," kata Astuti.

Padahal buku Pram pernah menjadi korban bakar. Dalam secarik kertas yang iseng ia tulis di ruang kerjanya tertera, beberapa buku yang dibakar adalah dua bagian Panggil Aku Kartini Saja, Wanita Sebelum Kartini, dua bagian Gadis Pantai, Sejarah Bahasa Indonesia, Suatu Percobaan.

"Dua naskah lagi sekarang ini aku tak dapat mengingat," ia menuliskan.

Semasa Orde Baru, apalagi saat Pram diasingkan di Pulau Buru, akses membaca buku-buku yang ditulisnya memang sangat sulit. Karyanya dilarang diterbitkan. Membacanya harus sembunyi-sembunyi.

Kembali ke masa kini, dari aktivitas dan hobi membakar sampah, Pram baru benar-benar istirahat dari pekerjaannya sehari-hari, setelah makan siang. Sosok yang hobi mengemil siung bawang putih itu biasa makan siang tepat pukul 12. "Setelah itu istirahat, pukul dua siang baru beraktivitas lagi," ujar Astuti menyebut kegiatan sang ayah.

Aktivitas Pram tak selalu di depan mesin tik--ia tak pernah mengetik di depan komputer karena tak bisa mengoperasikannya. Kata Astuti, tidur pun Pram "bekerja." "Karena saya sering dengar dia mengigau di dalam tidurnya, bersenandung."

Belakangan, "meja kerja"-nya berpindah ke dapur. Mengetik tetap di perpustakaan, tapi mengkliping atau mencatat lebih suka di dapur. "Karena dia mau dekat terus dengan ibu," tutur Astuti soal hari-hari terakhir sang ayah. Hingga akhir hayatnya, 30 April 2006 Pram masih menggarap ensiklopedia Indonesia.

"Sampai sekarang belum selesai dikerjakan. Panjangnya sudah 16 meter. Sebagian sudah ada yang diketik," ujar Astuti menerangkan. Tahun ini, sudah 10 tahun naskah itu tak terselesaikan. Namun Astuti masih menyimpannya rapi di bagian atas rak buku di perpustakaannya. (les/les)