Artie Ahmad
Artie Ahmad lahir di Salatiga. Saat ini menulis apa saja yang dia sukai. Dua novelnya terbit tahun lalu, dan beberapa cerpennya termaktub dalam beberapa buku antologi.

Bertualang bersama Karya-Karya Nh Dini

Artie Ahmad, CNN Indonesia | Selasa, 01/03/2016 11:16 WIB
Bertualang bersama Karya-Karya Nh Dini Buku-buku karya Nh Dini (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Entah sudah berapa lama saya menjadi penggemar karya-karya Nh Dini. Saya rasa sudah cukup lama. Sudah banyak karyanya yang saya baca. Di deretan buku koleksi pribadi saya, buku-buku karangan Nh Dini menduduki deretan buku dengan judul buku terbanyak di samping karya-karya Mira W.

Karya Nh Dini pertama yang saya baca dari seri Cerita Kenangan, Sebuah Lorong di Kotaku. Buku ini adalah seri pertama dari rangkaian seri Cerita Kenangan yang ditulis Nh Dini, dan karena buku inilah saya memulai serangkaian “petualangan” untuk melengkapi koleksi karya Nh Dini lainnya.

Seiring berjalannya waktu saya mulai membaca dan mengoleksi di antaranya, Dari Ngalian ke Sendowo, Kemayoran, Sekayu, Padang Ilalang di Belakang Rumah, La Barka, Jepun Negerinya Hiroko, Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang, Dari Parangakik ke Kampuchea, La Grand Borne, Kuncup Berseri, Pondok Baca, Pertemuan Dua Hati, Namaku Hiroko, bahkan Sampar, karya Albert Camus yang diterjemahkan Nh Dini.


Seperti halnya ketika membaca karangan-karangan dari penulis lain, selalu ada hal baru yang saya dapat ketika membaca karya Nh Dini. Dari caranya bertutur, penyampaian cerita kepada pembacanya adalah sesuatu hal yang menarik.

Tak jarang ada hal-hal yang patut dicermati dari apa yang disampaikan. Sikap feminisme yang kental mampu membuka mata bahwa setidaknya seorang wanita tak seharusnya diperlakukan dengan tidak adil, meski yang melakukan suaminya.

Polemik yang sering Nh Dini hadirkan dalam setiap karyanya adalah gambaran gamblang tentang bagaimana manusia berhubungan dengan manusia lainnya.

Penggambaran itu mampu memberikan suatu hal baru bagi seseorang yang belum terlalu paham dalam memaknai sebuah kehidupan “bersama”.

Lewat karya-karya Nh Dini saya belajar bagaimana seharusnya penulis menyampaikan kepada pembaca tentang psikologis tokoh secara lugas bahkan dalam hal sepele sekalipun.

Bahwa penggambaran tokoh saja kurang bagi dalam bercerita. Hal mendetail dalam hal-hal kecil yang terkesan remeh mampu menjadi hal yang menarik ketika seorang Nh Dini yang menyuguhkan dalam bentuk sebuah karangan tulisan.

Hal inilah yang saya pelajari dari karya-karya Nh Dini. Detail, cermat, serta kesabaran dalam menyuguhkan sebuah karya.

Meski begitu, semakin ke sini memang ada hal-hal yang sedikit “longgar” dalam karya terbaru Nh Dini.

Semisal gaya bercerita terlalu fokus dalam hal-hal kecil yang sebenarnya remeh untuk diceritakan, dalam poin ini yang dikhawatirkan adalah menggiring pembaca ke fase jenuh ketika membaca karangannya. Terlebih di kalangan kaum muda yang lebih menyukai gaya bahasa “kekinian” dan cenderung praktis.

Namun, di usianya yang ke-80 tahun, karya-karya Nh Dini masih akan selalu ditunggu bagi pembaca setianya. Lebih dari 65 tahun menekuni dunia literasi tak membuat eksistensinya dalam dunia literasi berkurang. Karangan-karangannya akan selalu bernas dan menarik untuk dibaca. (dlp)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS