Indonesia Menang Penghargaan Sastra Berkat Novel Berlatar '65

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 03/06/2016 18:43 WIB
Indonesia Menang Penghargaan Sastra Berkat Novel Berlatar '65 Laksmi Pamuntjak unggul dibanding lima penulis perempuan lainnya dalam penghargaan sastra Jerman. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia perbukuan Indonesia kembali menorehkan prestasi. Buku karya penulis Indonesia, Laksmi Pamuntjak unggul dalam penghargaan penulisan Liberaturpreis di Jerman. Ia satu-satunya perwakilan Indonesia.

Kemenangan Laksmi diumumkan situs web resmi Liberaturpreis, Jumat (3/6). Ia unggul dari perolehan suara, di mana publik dari negara mana pun bebas menentukan pilihan.

Menurut keterangan Dionisius Wisnu hubungan masyarakat PT Gramedia Pustaka Utama penerbit buku Laksmi di Indonesia, sang penulis Aruna dan Lidahnya unggul dengan perolehan 56 persen suara. Di bawahnya, ada penulis asal Tunisia.


"Indonesia 56 persen, Tunisia 38 persen. Saingan terberat Tunisia, pepet-pepetan terus," ujar Wisnu melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat sore.

Laksmi menjadi nomine lewat bukunya yang berjudul Amba. Novel roman berlatar peristiwa 1965 itu telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, berjudul Alle Farben Rot dan dua kali diunggulkan di Frankfurt Book Fair.

Selain bahasa Jerman, Amba juga akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul The Question of Red, terbit 12 Juli mendatang.

Penulis yang juga hobi jajal kuliner itu masuk enam besar nominasi bersama Marguerite Abouet penulis asal Afrika, Najet Adouani asal Tunisia, Maria Sonia Cristoff asal Argentina, Ayelet Gundar-Goshen penulis asal Israel, dan Antjie Krog yang juga penulis asal Afrika.

Sejak pertama dinominasikan, Laksmi sudah memimpin perolehan suara. Sampai awal Mei lalu, ia sudah mendapat hampir 50 persen suara. Amba memang sudah populer di Jerman. Buku itu disebut sebagai karya internasional terbaik paruh tahun ke-dua yang telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, menurut daftar sastra Weltempfaenger.

Amba juga disebut sebagai 10 besar karya fiksi terbaik oleh sejumlah media ternama Jerman seperti Frankfurter Allgemeine Zeitung.

Terpilih memenangi penghargaan yang diselenggarakan lembaga Lit Prom untuk menyuarakan penulis-penulis perempuan yang selama ini belum terepresentasikan itu, Laksmi mengaku terharu sekaligus tersanjung.

Melalui kata-kata kemenangan yang disampaikan Wisnu, Laksmi berterima kasih kepada para pemilihnya, penerbit di Indonesia maupun Jerman, serta narasumber untuk Amba termasuk Amarzan Loebis dan Tedjabayu Sudjojono. Mereka membantu Laksmi memperkaya cerita dengan berbagi pengalaman soal tragedi 1965 dan Pulau Buru.

Melalui mendunianya Amba, Laksmi berharap "dunia semakin akrab dengan Indonesia dan kemajemukan kita yang luar biasa."

Untuk masyarakat Indonesia sendiri, "Semoga kita semakin berani melawan suara-suara miring mereka yang merasa berhak menguasai sejarah serta semakin arif dalam menyikapi apa yang tidak pernah hitam atau putih dalam sejarah manusia," kata Laksmi melanjutkan. (rsa/rsa)