Kartika Mengenang Affandi di Hari Ayah Sedunia

Vega Probo, CNN Indonesia | Minggu, 19/06/2016 13:38 WIB
Kartika Mengenang Affandi di Hari Ayah Sedunia Kartika Affandi usai sesi diskusi lukisan karya ayahnya, Affandi, di National Gallery, Singapura (18/6). (CNNIndonesia/Vega Probo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak banyak pelukis Indonesia yang memiliki generasi penerus. Maka Affandi boleh dikatakan sebagai seniman yang beruntung, sebab memiliki putri semata wayang (dari istri pertama Maryati), Kartika Affandi-Koberl, yang mewarisi bakat seninya.

Saat ini, beberapa lukisan Affandi tengah dipamerkan di National Gallery, Singapura. Dengan bangga, Kartika membahas satu per satu kisah di balik lukisan ayahnya dalam sesi Art Talks di galeri yang berlokasi di kawasan elit St. Andrews tersebut.

Kebetulan, Minggu ke-tiga Juni (19/6) bertepatan Hari Ayah Sedunia. Kartika pun membuat gambar wajah ayahnya di selembar kertas dengan pena di kamar hotel. Kegiatan semacam ini sering ia lakukan, terutama kala rindu kepada ayah, juga ibunya.


Sesi Art Talk lukisan karya Affandi di National Gallery Singapura menarik banyak peminat. (CNNIndonesia/Vega Probo)
“Kalau rindu sama papi, saya membuat gambar wajahnya berdasarkan ingatan dan kenangan saya, kadang juga menulis surat untuknya,” kata Kartika kepada CNNIndonesia.com usai sesi Art Talks di Glass Room, National Gallery, Singapura, pada Sabtu (18/6).

Sekalipun ayahnya telah lama mangkat, pada 1990, kenangan selamanya melekat di benak Kartika, dari pengalaman bermain sampai menggambar bersama. Perempuan 82 tahun ini pun masih mengingat kata-kata bijak sang Ayah yang dituturkan kepadanya.

“Dulu, belum ada mainan plastik. Papi bikin mainan dari lempung, seperti suling. Papi juga mengajari saya main layangan dan naik sepeda,” kata Kartika yang mengaku tak asing dengan permainan khas laki-laki. Soal kegemaran melukis lain lagi ceritanya.

Kartika Affandi tetap aktif di usia 82 tahun. Bahasa Inggrisnya pun lancar. (CNNIndonesia/Vega Probo)


Affandi, menurut Kartika, tidak pernah memaksa dirinya untuk mengikuti jejak menjadi pelukis dan perupa. “Kalau mau menggambar ya menggambarlah,” Kartika menirukan ucapan ayahnya. Lagipula bisa dipaksakan, Kartika malah enggan melakukanya.

Kini, siapa pun tahu karya Kartika bak pinak dibelah dua dengan Affandi. Lukisannya mirip, nyaris tidak bisa dibedakan mana karya Affandi atau Kartika. Keduanya sama-sama ekspresif dalam menggambarkan wujud tertentu. Tak beraturan, namun tak rumit.

Meski begitu, diakui perempuan kelahiran 27 November 1934 ini, sang ayah sama sekali tidak pernah memuji karyanya. Kartika sendiri tak mempermasalahkan hal itu. “Kalau dipuji, nanti saya malah stuck, tidak mau berusaha menjadi lebih baik.”

Kartika menceritakan secara detail kisah di balik lukisan ayahnya, Affandi. (CNNIndonesia/Vega Probo)


Suatu kali, Kartika dan ayahnya pergi ke pasar hewan untuk menggambar kerbau. Hewannya sama, tarikan garisnya pun tak berbeda, tapi ternyata perspektif bapak dan anak ini bertolak belakang, sesuai karakter pribadi masing-masing.

“Papi bikin lukisan si kerbau seperti mau berontak ketika diikat, ini menggambarkan laki-laki yang tidak mau terikat. Sementara saya menggambar kerbau yang mengeluarkan air liur, seperti perempuan yang selalu minta dikasihani,” kata Kartika.

Kartika tentu saja senang sang ayah meleluasakan dirinya berkreasi dan berkembang dengan cara sendiri. Lagipula pemikiran atau perspektif perempuan dan laki-laki berbeda. “Saya tidak ingin menjadi papi [Affandi] ke-dua. Be like just Kartika.”

Di akhir sesi Art Talk, Kartika Affandi diserbu penggemar. (CNNIndonesia/Vega Probo)
(vga/vga)