Suara Pilu Ianfu, Budak Seks Jepang dalam Bingkai Seni

Rizky Sekar Afrisia & Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Minggu, 14/08/2016 22:36 WIB
Suara Pilu Ianfu, Budak Seks Jepang dalam Bingkai Seni Jepang punya sistem ianfu, memperbudak perempuan lokal untuk berhubungan seks dengan tentaranya semasa perang. (wikimedia created by the United Kingdom Government)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana mencekam terasa saat memasuki galeri sebelah kanan di Cemara 6 Galeri-Museum, Jakarta Pusat. Lukisan-lukisan perempuan menyapa. Kesedihan nyata menggelayuti mereka.

Satu hal yang membuat mereka sama: nasib. Cita-cita yang mereka gantungkan setinggi langit--ada yang ingin menjadi penyanyi, artis, sekadar pembantu rumah tangga, sampai melanjutkan pendidikan--harus direnggut oleh nasib buruk.

Mereka berakhir sebagai ianfu, sebutan bagi budak seks yang harus melayani nafsu tentara Jepang.


Lukisan yang memajang wajah-wajah ianfu itu hanya satu dari 12 perupa yang memamerkan karya dalam pameran Kitab Visual "IANFU." Itu hanya salah satu ekspresi kesedihan dan kekelaman.

Ekspresi lain misalnya ditunjukkan oleh Ida Akhmad melalui topi militer Jepang yang dibuat dari tanah liat. Jumlahnya 30 buah, merupakan wujud 'kehadiran' serdadu pada masanya dahulu.

Peletakannya sengaja dibikin tak beraturan. Ada yang ditempel di dinding, di atas bangku, atau di lantai. Seakan militer Jepang ada di mana-mana.

Ada pula seniman yang berekspresi melalui pembuatan bilik, Bibiana Lee. Dua biliknya ditutup kain tipis, yang tertulis sejumlah nama korban ianfu dari Indonesia. Mardiyem, Tuminah, Umi Kulsum.

Selain ditulis dengan aksara latin, nama-nama itu juga diubah bernada Jepang. Sebab militer Jepang tak bisa mengucapkan nama orang Indonesia.

Di balik dindin bilik, ditulis ungkapan-ungkapan kesedihan dan penderitaan dari para ianfu. Pencahayaan dibuat suram, menyiratkan kesendirian dan kepedihan. Di antara dua bilik itu ada lukisan karya Indyra, yang menggambarkan sosok wanita berkebaya memeluk tubuhnya sendiri seakan merasa kesakitan dan takut.

Yang paling mencolok di tengah ruang, ada karya Ade Artie dan Indah Arsyad yang berupa seribu kondom tergantung. Dibuat dari resin transparan, kondom itu menjadi lambang perbudakan seks.

"Mereka [Jepang] awalnya enggak mau pakai kondom, tapi kan sakit ya. Jadi sama pemerintah Jepang difasilitasi dengan Kondom Okomoto, dibuat tahun 1936," ujar Indah menjelaskan.

Kondom-kondom itu digantung di atap hingga membentuk bunga krisan dengan 16 kelopak. Bunga krisan merupakan lambang kekaisaran Jepang. Tepat di bawah kondom, ada kebaya yang juga terbuat dari resin transparan karya Ade Artie.

Itu perlambang perempuan Indonesia. Kebaya disusun di bawah seakan tak berdaya, dan dibuat transparan untuk menunjukkan betapa ringkih perempuan Indonesia usia muda saat itu.

Ada lambang kupu-kupu di salah satu sudut kebaya, yang menunjukkan perempuan itu ianfu.

Tak jauh dari karya tersebut, terdapat sebuah lukisan yang digabung dengan sebuah video dari Gadis Fitriana. Lukisan self-potrait itu menggambarkan sosok perempuan yang tertunduk sedih. Di atas lukisan tersebut terpancar video dari hitungan yang ditulis dengan lambang turus.

Penghitungan itu bisa bermakna ganda. Ianfu yang menghitung hari hingga akhirnya seluruh raganya terenggut tentara Jepang. Atau ianfu yang menghitung jumlah tentara yang mendatanginya setiap hari.

Berdasarkan catatan Mardiyem, salah seorang korban ianfu dalam satu sesi perbudakan seks, jumlah tentara yang hadir bisa mencapai lima atau enam orang. Dalam satu hari, korban ianfu bisa mendapat giliran hingga dua sesi.

Indonesia enggak punya kepedulian untuk tahu sejarah perempuan Indonesia. Mungkin ada, Kartini dan lain sebagainya, tapi ianfu?Dolorosa Sinaga, seniman
Itu berarti, jumlah tentara yang mendatanginya setiap hari bisa mencapai 12 orang. Penghitungan turus itu pun terasa sangat memilukan.

Di depan karya Gadis, terdapat lukisan milik AP Bestari. Hanya satu sosok yang dilukis: Mardiyem. Ia menggambarkan Mardiyem sebagai sosok ceria, bersahabat, dan optimistis. Itu terlihat dari warna yang digunakan: kuning, merah muda, oranye.

Namun, terdapat unsur kontradiktif pada karyanya. Di depan lukisan itu, ia menggantungkan plexiglass. Ada gambaran penderitaan Mardiyem di atas plexiglass. Masa lalunya yang kelam itu digambarkan hanya dengan satu warna: hitam.

Di tempat lain, Dyah Ayu membuat sebuah animasi jantung, yang melambangkan ketakutan dari ianfu. Animasi tersebut dipancarkan ke atas prisma bersisi empat yang memproyeksikan jantung sehingga terlihat seperti bentuk hologram.

Karya itu pun berdenyut dan berbunyi layaknya jantung asli. Seperti denyut yang menemani hari-hari para ianfu sampai hidup mereka berakhir.

Karya-karya itu dipamerkan mulai 9 hingga 23 Agustus 2016. Itu menjadi salah satu suara mengingat kekejian tentara Jepang terhadap perempuan-perempuan, termasuk di Indonesia.

Keduabelas seniman yang berekspresi dalam pameran itu pun perempuan, karena dirasa lebih mudah merefleksikan diri para pengalaman.

Pameran itu juga diselenggarakan dalam rangka Hari Ianfu Internasional yang jatuh setiap 14 Agustus. Tanggal itu diputuskan menjadi Hari Ianfu Internasional sejak 2013, sebagai salah satu cara menghormati dan membela para korban ianfu.

Selama ini, menurut Dolorosa Sinaga seniman yang juga pemerhati nasib ianfu, budak seks Jepang itu dianggap memalukan dan jadi aib negara. "Indonesia enggak punya kepedulian untuk tahu sejarah perempuan Indonesia. Mungkin ada, Kartini dan lain sebagainya, tapi ianfu?" katanya.

Padahal, Eka Hindra peneliti independen melanjutkan, ianfu merupakan praktik perbudakan yang dibiayai dan dibentuk secara resmi melalui lembaga oleh Kaisar Jepang Hirohito. Bukan hanya kepada perempuan Indonesia, itu juga dilakukan di Timor Leste, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Korea.

Kekuatan politik Jepang yang begitu besar di mata dunia membuat kasus ianfu tidak diusut secara tuntas, bahkan cenderung diabaikan.

"Sejak tahun 1974 sudah terungkap. Tapi kasus ini diabaikan," kata Eka. Baru lah pada tahun 1991, tepatnya saat perayaan 50 tahun tragedi Pearl Harbour, seorang wartawan asal Korea Selatan, Kim Hak-Sun, berani mengungkapkannya.

Kaisar Jepang Hirohito pun dinyatakan bersalah. Namun dunia, termasuk pemerintah Indonesia, bungkam. "Korban ianfu sekarang justru dianggap sebagai pelacurnya militer Jepang. Padahal itu perisitiwa yang dilembagakan sendiri oleh pemerintah Jepang," Dolorosa memaparkan.

Bagi Jepang, perempuan itu dianggap second citizen. "Pembantu, enggak ada undang-undang untuk perempuan. Makanya ada budaya geisha itu. Mereka ngeles kalau disuruh tanggung jawab soal ianfu. Mereka anggap ianfu korban perang."

Suara pilu ianfu pun tergambar jelas dalam karya 12 seniman yang berpameran Kitab Visual "IANFU." (rsa/rsa)