'Bunga Penutup Abad,' Konflik Cinta Pribumi dan Eropa

Antara & CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 25/08/2016 18:00 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Minke yang seorang pribumi jatuh cinta dengan gadis keturunan Belanda bernama Annelies. Tapi aral menghadang cinta mereka.

Kecantikan Annelies lah yang membuat Minke jatuh cinta pada kali pertama mereka bertemu di Boerderij Buitenzorg, Wonokromo, Surabaya. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Minke adalah seorang pribumi keturunan ningrat. Sementara Annelies remaja keturunan Belanda. Mereka tinggal bersama dan menikah. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Tapi hubungan mereka memicu konflik. Pengadilan putih tidak mengakuinya. Pribumi dianggap tidak pantas dengan kaum Eropa. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Begitu pun hubungan Nyai Ontosoroh, ibunda Annelies dengan Herman Mallema yang seorang Belanda. Herman ternyata punya istri sah di Belanda sana. Ia juga punya putra yang diakui. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Keluarga Herman di Belanda pun menuntut hak atas harta kepala keluarga mereka. Annelies bahkan harus dibawa ke Belanda, tak boleh ditemani suami maupun ibu kandungnya. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Perjalanan Annelies ke Belanda yang akhirnya dikawal Panji Darman, diceritakan lewat surat per surat. Itu membuat Minke dan Nyai bernostalgia soal masa-masa Annelies masih bersama mereka. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Annelies dilukis oleh seorang mantan serdadu berkaki buntung, Jean Marais. Ekspresinya tulus, cantik dan syahdu membuat Minke menamai lukisan istrinya itu dengan Bunga Penutup Abad. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Frase itulah yang dipakai sutradara dan penulis Wawan Sofwan untuk judul pentas teaternya. Teater itu akan dimainkan di Gedung Kesenian Jakarta selama tiga hari hingga Sabtu (27/8). (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Reza Rahadian memainkan Minke. Annelies diperankan Chelsea Islan, Happy Salma menjadi Nyai Ontosoroh, dan Lukman Sardi sebagai Jean. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Ini pertama kalinya mereka main teater, kecuali Happy. Cerita Bunga Penutup Abad dirangkum dari fantasi karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, yang tertuang di tetralogi Buru. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)