'Bunga Penutup Abad' Kehilangan Nyawa Pram

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 25/08/2016 16:05 WIB
Bunga Penutup Abad diambil dari frase 'ciptaan' Pram dalam bukunya, dipentaskan menjadi teater. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suara medok Reza Rahadian terdengar di kegelapan. Seiring ia membacakan surat pertama dari Panji Darma dengan tempo cepat, lampu panggung pun mulai menyala. Kekuningan.

Di kursi rotan yang diatur berhadapan, baru terlihat Reza duduk dengan pakaian khas Jawa. Jas, sarung batik dan blangkon. Di hadapannya, ada Happy Salma dengan pose bak wanita kehormatan.

Reza tengah menjelma menjadi Minke, tokoh dalam Tetralogi Pulau Buru karya sastrawan besar Indonesia, Pramodeya Ananta Toer. Sementara Happy memerankan Nyai Ontosoroh, atau sering juga disebut dengan panggilan Mama oleh Minke.


Surat yang menginformasikan perjalanan Panji Darman ke selesai dibacakan. Minke dan Nyai kemudian berdialog tentang bagaimana mereka bosan harus dikurung di rumah besar itu.

Minke tak sabar segera menyusul ke Belanda. Tempat istri yang dicintainya, Annelies dibawa. Annelies lah yang dijagai Panji Darman sepanjang perjalanan dengan kapal ke Belanda itu. Annelies pula sebab Panji Darman rajin berkirim surat.

Minke dan Nyai pun mengenang kali pertama mereka bertemu. Minke, siswa HBS diajak kawannya Robert Suurhof berkunjung ke Boerderij Buitenzorg di Wonokromo, Surabaya.

Reza Rahadian memerankan Minke dan Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Sementara kawannya itu bercengkerama dengan Robert Mallema kakak Annelies, Minke bertemu gadis indo cantik yang langsung memukau hatinya. Berkenalanlah ia dengan Annelies. Sikap santun, pujian, sampai ciuman Minke membuat Annelies melayang. Ia mengajak Minke tinggal di rumahnya.

Lambat laun keduanya saling jatuh cinta. Mereka pun menikah. Gunjingan sempat datang, terutama karena Minke pribumi, meskipun dari kalangan bangsawan dan terpelajar, dan Annelies campuran Belanda. Tapi Minke banyak dibela karena tulisan-tulisannya membuat hati masyarakat tergerak.

Apa yang salah dari perkawinan campur itu?

Masalah memuncak ketika Nyai dan Tuan, seorang Belanda bernama Herman Mallema, ternyata tak pernah punya ikatan perkawinan. Herman punya istri sah di Belanda sana, juga anak kandung bernama Maurits Mallema. Mereka menuntut hak.

Seluruh harta Herman menjadi milik mereka setelah sang Tuan ditemukan meninggal di rumah pelacuran. Ada bagian untuk Annelies, tapi karena ia belum dewasa maka walinya jatuh ke tangan Maurits. Artinya Annelies harus pulang ke Belanda.

Ia tak boleh ditemani Minke maupun Nyai. Hanya ada Panji Darman di sampingnya. Panji Darman menemani Annelies, merawatnya, sampai ke Belanda. Sampai Annelies meregang nyawa.

Akting yang Belum 'Kerasukan'

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2