Gerak 'Patah-patah' Teater Boneka

M. Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 17/09/2016 15:27 WIB
Gerak 'Patah-patah' Teater Boneka Pentas Papermoon Puppet Theater. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cinta ikut bersedih dan tersenyum saat dengan patah-patah boneka kertas dimainkan di hadapannya. Di sampingnya, Rangga tersenyum.

Adegan di depan mereka memang hanya dimainkan boneka. Tapi itu terasa bak nyata, apalagi bagi yang sedang dimabuk cinta seperti mereka.

Boneka di panggung berlatar hitam itu begitu detail. Kerut di dahi, senyum sedih, bahkan mata memelas. Bukan hanya Rangga dan Cinta, penonton Ada Apa dengan Cinta? 2 di bioskop pun seakan ikut terhipnotis oleh pentas yang sama.


Mereka menunggu sampai film rampung dan mengingat baik-baik nama teater yang disebut di akhir perjalanan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo itu.

Papermoon Puppet Theater. Markasnya di Yogyakarta. Mereka sudah membuat boneka kertas dan mementaskannya bak wayang, sejak 2006. Saat itu hanya untuk anak-anak.

Saat akhirnya mereka ‘pindah’ ke penonton dewasa, antusiasmenya tak kalah besar. 300 tiket yang dijual untuk pentas perdana sampai ludes.

Pertunjukan seni boneka memang bukan merupakan hal baru di Indonesia. Maria Tri Sulistyani penggagas Papermoon mengatakan, ranah seni itu sudah banyak digeluti sejak awal 2000-an. Hanya saja, sampai kini gerakannya masih 'patah-patah.’

Sama seperti gerakan boneka di atas pentas. Lamat-lamat.

Berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, Tri mengatakan perkembangan teater boneka di Indonesia memang tidak riuh.

"Kami sendiri sudah 10 tahun dan selama itu untuk cari teman sesama pegiat seni boneka sulit sekali. Kalau ada pun meraka tidak bertahan lama," kata Trinya.

Menggeluti seni itu memang bukan hal mudah. Ini bukan sekadar bisnis pentas menjual tiket. Bukan sekadar agar dikagumi untuk berfoto selfie.

Harus ada jiwa di dalamnya. Selain harus membuat cerita yang kuat, seniman pertunjukan seni boneka juga harus membuat karakter boneka yang kuat.

Tak lepas sampai di situ, keduanya harus dikolaborasikan dengan dukungan visual yang menarik. Seperti set panggung atau busana boneka. Semua harus pas.

Pentas Papermoon Puppet Theater di Sukabumi. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

Kalau soal memainkan, teater boneka tidak jauh berbeda dengan wayang. Bedanya, dalang terlihat betul menggerakkan boneka dari belakang, di atas panggung.

Itu jadi tantangan tersendiri.

“Kami juga harus pakai busana dan berekspresi yang cocok dengan bonekanya. Biasanya satu boneka itu dimainkan dua sampai tiga orang,” tutur Tri menerangkan.

Mengerjakan itu jelas butuh keseriusan dan kesabaran. Persiapan butuh waktu panjang. Biayanya tidak sedikit. Latihan juga diperlukan. Kalau tidak serius, buyar.

"Ada satu grup yang saya tahu dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, namanya Flying Baloon Puppet. Tapi mereka belum serius banget karena masih mahasiswa.”

Alhasil, sampai sekarang nama grup itu belum melambung.

Munculnya Papermoon dalam AADC 2 memang sangat membantu. Mereka sampai harus menolak banyak permintaan tampil karena keterbatasan waktu berlatih. Tapi keseriusan dan ketelatenan tetap harus dijadikan nomor satu.

Di Indonesia, hal-hal seperti itu kadang kurang dihargai. Mungkin karena lingkungan dan perkembangannya juga kurang mendukung. Masyarakat belum terbiasa.

Karenanya beberapa kali Papermoon lebih memilih tampil di luar negeri. Boneka khas mereka sudah pernah tampil di Amerika, Belanda, Jerman, Italia, Jepang, Australia, Korea Selatan, Thailand, India, Myanmar, Singapura, dan Filipina.

"Kami sering ke luar negeri karena di Indonesia sepi. Biasanya kami diundang atau ada ajakan kolaborasi dengan grup seni pertunjukan boneka luar negeri,” ujar Tri.

Tapi belakangan Papermoon sudah mulai membuka pentas di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

"Setiap kami pentas orang yang nonton selalu baru. Animo penonton juga baik. Kalau mengukur dari penonton, seharusnya ini bisa berkembang,” katanya yakin. (rsa/rsa)