Dinamika Muslim Indonesia 'Mencari Hilal' Keliling Asia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 28/09/2016 16:15 WIB
Dinamika Muslim Indonesia 'Mencari Hilal' Keliling Asia Salah satu adegan dalam film Mencari Hilal. (Dok. MVP Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mencari Hilal pernah menjadi bahan perbincangan tahun lalu. Dirilis dengan waktu yang dianggap tepat, berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri bagi umat Muslim, film itu ternyata hanya bertahan beberapa hari di bioskop-bioskop Indonesia.

Pihak bioskop sempat disalahkan lantaran dianggap menganakemaskan film lain yang notabene produksi Hollywood: Ant-Man. Alih-alih ‘membela’ film lokal, bioskop malah menambah layar bagi Ant-Man. Sineas dalam negeri pun protes.

Tapi tak ada yang bisa dilakukan karena mau tidak mau bioskop pasti punya pertimbangan bisnis. Meski begitu, Mencari Hilal tak kehabisan ide. Kurang diminati di dalam negeri, film yang dibintangi Oka Antara itu berkeliling Asia.


Hingga kini tercatat sudah empat festival internasional yang dijajal film itu. Termasuk International Premiere/ Asian Future Competition Tokyo International Film Festival 2015, Hong Kong Asian Film Festival 2015, Sala Mindanaw International Film Festival, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2015.

Baru-baru ini film yang dalam bahasa Inggris berjudul The Crescent Moon itu mewakili Indonesia dalam RAAF The 1st RU ASEAN Festival yang diselenggarakan Universitas Ramkhamheng Bangkok, 25 sampai 29 September 2016.

Mencari Hilal terpilih bersama delapan film lain yang juga berasal dari ASEAN: From Bangkok to Mandalay (Thailand-Myanmar), Golden Slumbers (Kamboja), Unlucky Plaza (Singapura), SWAP (Filipina), NUOC2030 (Vietnam), Ola Bola (Malaysia), dan My Teacher (Thailand-Laos).

Menurut keterangan pers dari KBRI Thailand yang diterima CNNIndonesia.com, Mencari Hilal mendapat perhatian cukup besar. Bioskop di pusat perbelanjaan dan universitas tempat film itu diputar yang berkapasitas 600 kursi, terisi sampai 80 persen.

Diskusi berjudul 'Censor, Islam, and Society' yang dilangsungkan setelah pemutaran film pun cukup menarik. Itu membuat pengunjung mendapat gambaran Indonesia negara berpenduduk mayoritas Islam namun cukup demokratis dan terbuka.

Diskusi itu dihadiri empat pembicara: Muhammad Ilyas Yahprung sebagai dosen senior Fakultas Ilmu Politik Universitas Ramkhamhaeng, Kong Ritdhee selaku kritikus film yang juga wartawan, kurator Panu Aree, dan sutradara Ismael Basbeth.

Sebagai sineas Ismael berharap, karya Indonesia semakin diakui internasional dan industri perfilman semakin maju dengan terlibatnya film-film dalam negeri di festival internasional, salah satunya seperti yang diselenggarakan di Thailand itu.

Awalnya, Mencari Hilal sebenarnya sempat tidak lulus sensor di RAAF. Panitia menganggapnya terlalu sensitif, terutama bagi umat Muslim di sana. Namun kemudian film itu dinilai justru bisa memberi pemahaman yang berbeda.

Dengan dialog-dialog yang mengkritisi Islam dan mengungkap perbedaan sudut pandang soal agama, film itu bisa menginspirasi soal betapa dialog diperlukan untuk menyelesaikan perbedaan termasuk soal keyakinan, dengan suasana damai.

“Film Mencari Hilal mampu memberikan gambaran mengenai dinamika kehidupan umat beragama di Indonesia, khususnya umat Islam,” kata kurator film Panu Aree. (rsa/les)