Tari Indonesia Berpadu Drama Yunani di Panggung London

Aghnia Adzkia, CNN Indonesia | Selasa, 11/10/2016 06:35 WIB
Tari Indonesia Berpadu Drama Yunani di Panggung London Pertunjukan kolaborasi tari Yunani dan Indonesia. (Dok.Istimewa/Aghnia Adzkia)
London, CNN Indonesia -- Jika biasanya sendratari Indonesia di atas panggung sering ditampilkan dalam kisah pewayangan karya sastra kuno dari India seperti Mahabharata, maka seorang sutradara Inggris meramu tarian Indonesia dengan drama Yunani, Hippolytos.

Margaret J Coldiron mengolaborasikan Jaipong, Tari Topeng dan Kecak dengan Hlippolytos saat tampil dalam panggung Indonesia Kontemporer 2016 di London, Inggris, Sabtu (8/10).

Coldiron mengaku, ide pementasan yang dimainkan oleh Aryani Kriegenburg Willems dan seniman dari Thiasos Theatre Company ini datang setelah dia mengikuti sebuah lokakarya di Indonesia.


"Hippolytos (bercerita) tentang Dewi Cinta (Aphrodite) vs Dewi Suci (Artemis) dan bagaimana mereka menghadapi perbedaan pada manusia. Ide ini muncul pada tahun 1998 saat saya kembali dari sebuah lokakarya di Indonesia,” kata Coldiron.

Diceritakan, Dewi Cinta merasa iri dengan Dewi Suci yang sering disembah oleh Hippolytos. Alhasil, untuk membalas dendam keloyalan Hippolytos, sang ‘cupid’ pun menembakkan anak panahnya pada ibu tiri bernama Phaedra yang dianggap sosok yang tepat untuk merusak hidup Hippolytos.

"Drama yang ditayangkan ini sedikit berbeda dari drama aslinya. Kalau yang asli banyak bagian Hippolytos yang berbicara, tapi ini tidak ada. Kami juga membuatnya menjadi happy ending," katanya.

Pementasan yang berlangsung selama 50 menit ini dibuka penampilan sosok Hippolytos dan Phaedra, beserta empat penari. Pada sesi pertama, mereka menyanyikan langgam klasik Yunani kuno karangan komposer James Masters yang diiringi alunan musik kontemporer dan gamelan dari Tim Jagat Gamelan.

Nanyian itu mewujudkan keloyalan Hippolytos terhadap Artemis. Sesi selanjutnya, Aphrodite membacakan mantra terhadap Phaedra agar jatuh cinta kepada Hippolytos. Gerakan dasar Tari Jaipong dan Tari Topeng tampak dalam babak ini.

Phaedra pun gusar dan bingung dengan perasaan cintanya yang tak wajar terhadap sang anak. "Kami khawatir tentang dia (Phaedra) dan tidak tahu apa yang terjadi padanya yang makin menjadi nyata," kata Margaret.

Phaedra yang gagal berusaha mendekati Hippolytos pun akhirnya bunuh diri. Ia sempat memberi pesan pada suaminya, yang tak lain adalah ayah Hippolytos, bahwa ia telah diperkosa oleh anak tirinya sendiri. Geram, sang ayah bernama Theseus pun mengutuk sang anak.

Di bagian akhir cerita, sang sutradara bersama penata artistik Yana Sistovari dan koreografer Untung Hidayat mengkreasikan sebuah tarian Jawa dan Bali untuk meredakan kecemburuan Dewi Cinta terhadap Dewi Suci.

Margaret mengakui, karyanya bersama rekan-rekan satu tim merupakan bentuk perpaduan antarbudaya dari dua benua. Karya ini merupakan buah pikiran dan ketertarikannya pada seni. "Jadi ini menggabungkan (budaya) timur dan barat," katanya. (meg/meg)