Margaret J Coldiron mengolaborasikan Jaipong, Tari Topeng dan Kecak dengan Hlippolytos saat tampil dalam panggung Indonesia Kontemporer 2016 di London, Inggris, Sabtu (8/10).
Coldiron mengaku, ide pementasan yang dimainkan oleh Aryani Kriegenburg Willems dan seniman dari Thiasos Theatre Company ini datang setelah dia mengikuti sebuah lokakarya di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pementasan yang berlangsung selama 50 menit ini dibuka penampilan sosok Hippolytos dan Phaedra, beserta empat penari. Pada sesi pertama, mereka menyanyikan langgam klasik Yunani kuno karangan komposer James Masters yang diiringi alunan musik kontemporer dan gamelan dari Tim Jagat Gamelan.
Nanyian itu mewujudkan keloyalan Hippolytos terhadap Artemis. Sesi selanjutnya, Aphrodite membacakan mantra terhadap Phaedra agar jatuh cinta kepada Hippolytos. Gerakan dasar Tari Jaipong dan Tari Topeng tampak dalam babak ini.
Phaedra pun gusar dan bingung dengan perasaan cintanya yang tak wajar terhadap sang anak. "Kami khawatir tentang dia (Phaedra) dan tidak tahu apa yang terjadi padanya yang makin menjadi nyata," kata Margaret.
Phaedra yang gagal berusaha mendekati Hippolytos pun akhirnya bunuh diri. Ia sempat memberi pesan pada suaminya, yang tak lain adalah ayah Hippolytos, bahwa ia telah diperkosa oleh anak tirinya sendiri. Geram, sang ayah bernama Theseus pun mengutuk sang anak.
Di bagian akhir cerita, sang sutradara bersama penata artistik Yana Sistovari dan koreografer Untung Hidayat mengkreasikan sebuah tarian Jawa dan Bali untuk meredakan kecemburuan Dewi Cinta terhadap Dewi Suci.
Margaret mengakui, karyanya bersama rekan-rekan satu tim merupakan bentuk perpaduan antarbudaya dari dua benua. Karya ini merupakan buah pikiran dan ketertarikannya pada seni. "Jadi ini menggabungkan (budaya) timur dan barat," katanya. (meg)