Yang Tetap Menari, Meski Dibatasi

Rahman Indra, CNN Indonesia | Jumat, 14/10/2016 08:32 WIB
Yang Tetap Menari, Meski Dibatasi Stephanie Kurlow menjadi balerina pertama di dunia yang mengenakan kostum balet tertutup dengan hijab. (Foto/Screenshoot via Instagram/@stephaniekurlow)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lahir dan tinggal di Sydney, Stephanie Kurlow mulai mengenakan tutu sejak berusia dua tahun. Setelah memeluk Islam, ia berhijab di usia sembilan tahun. Pada awalnya ia sempat khawatir keinginannya menjadi balerina akan sulit terwujud.

Tapi itu dulu. Kini, di usianya 14 tahun, Kurlow tak lagi takut. Ia meneruskan menjadi balerina, dan menjadi profesional balerina pertama di dunia yang berhijab.

Dalam sejumlah foto yang diambil di studio tari di Sydney, Australia, seperti dilansir Huffington Post, Kurlow tampak mengenakan kostum balet tertutup dari kepala hingga ujung kaki. Ia memadumadankan hijab dengan tutu biru.


Ketika pertama kali mengenakan hijab, ia sulit menemukan kelas balet yang mengijinkannya ikut serta.

Kurlow lalu mengusung kampanye penggalangan dana untuk dapat membiayai kelas private sehingga ia masih bisa berlatih menjadi balerina. Sekitar 700 orang lalu memberikan donasi hingga total raihan mencapai US$ 7,000.

"Saya pikir ini menyenangkan, karena balerina tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya, meski di dalam sepatu ada luka perih sekalipun," ujar dia dalam wawancara bersama CNN.

Dalam aksinya ini, Kurlow mendapat inspirasi dari pelatih balet Misty Copeland dan atlet angkat berat berhijab Amna Al Haddad.

Ia berharap kisahnya juga dapat menginspirasi perempuan lainnya untuk tidak menyerah mewujudkan mimpi hanya karena batasan agama, etnis atau latar belakang. Dalam blognya, ia juga menyampaikan pesan dan harapan, agar suatu hari nanti, ia dapat membangun fasilitas tari sendiri untuk anak-anak muda.

"Sekolah ini akan menampung siapa saja, dengan memiliki program khusus untuk pemeluk agama tertentu, serta orang-orang yang susah mendapatkan tempat di studio tari umum," kata dia. 

Di usianya yang tergolong muda, Kurlow kerap dianggap sebelah mata, baik dari komunitas Muslim maupun dari sesama penari balet.

"Saya selalu mendapat lirikan atau diperbincangkan, bahkan dianggap tak akan mampu melakukannya, hanya karena baju yang saya kenakan atau apa yang saya yakini," ungkap dia pada Sydney Morning Herald.

"Akan tetapi ini sangat berarti buat saya. Saya pikir saya akan menyadarkan orang agar tak mempersoalkan hambatan, sebaliknya meskipun dari ras berbeda-beda, tetap dapat menari sama-sama." (rah)