Kompetisi Balet di Indonesia Minim Dukungan Pemerintah

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Senin, 18/04/2016 02:53 WIB
Belum adanya institusi profesional di Indonesia menyebabkan para murid balet hanya sebatas belajar di sekolah-sekolah mereka. Dance Prix (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berasal dari Italia, namun tari balet dibesarkan dan dipopulerkan di Perancis. Sementara di Indonesia sendiri, balet sudah berkembang sejak 50 sampai 60 tahun lalu.

Ironisnya, meski sudah lama berkembang namun penerimaan masyarakat di Indonesia masih kurang. Bahkan pengembangannya pun masih berpedoman pada negara-negara yang membesarkan tarian balet tersebut.

Salah satu peserta Dance Prix kategori Pre Senior, Gabriella Suhendro yang juga berprofesi sebagai freelancer instructure ballet, mengungkapkan bahwa Indonesia masih jarang sekali pengembangan, khususnya dalam hal kompetisi. Meski seringkali sekolah-sekolah balet mengadakan pentas, namun dirinya menganggap tak semua mampu menyelenggarakan.


“Kompetisi itu bagus untuk ballerina di masa depan, untuk persaingan yang sehat dan mengumpulkan sekolah balet. Untuk melatih mereka untuk tampil di panggung, banyak sekolah kecil yang belum punya kesempatan untuk pentas,” ujarnya.

Setali dengan Agatha, guru balet dari Mainstream of Arts Murni Makmoer pun menyatakan bahwa pemerintah Indonesia kurang memperhatikan tarian balet. Ia menyayangkan bahwa kurikulum yang diterapkan masih berpedoman pada negara luar.

“Pengennya bukan hanya belajar dari luar, tapi punya kurikulum sendiri, sertifikasi dari pemerintah, bisa jadi tuan rumah sendiri, Sekarang apa-apa luar, ujiannya mahal, sertifikat guru bayarannya mahal, bangga dengan luar padahal potensi penari kita juga bagus, dan ingin ada persatuan,” tuturnya.

Hal seperti itulah yang kemudian mengetuk Juliana Tanjo sebagai pendiri Indonesia Dance Society untuk menggagas dan menyelenggarakan kompetisi tari balet dan kontemporer, Dance Prix Indonesia, sebagai wadah murid-murid sekolah balet dapat menunjukkan bakat dan potensi mereka.

Namun, di balik acara ini, di sela harapan berkembangnya tarian balet di Indonesia, pemerintah belum juga tergerak untuk ikut mendukung kompetisi seperti ini meski telah dua kali digelar. Dukungan justru datang dari kedutaan besar Italia, serta Belanda dan Singapura.

Belum adanya institusi profesional di Indonesia, menurut Juliana, pun yang menyebabkan para murid balet hanya sebatas belajar di sekolah-sekolah mereka.

Hal ini senada yang dikatakan oleh Agatha, bahwa belum adanya institusi dari pemerintah yang membuat tari balet di Indonesia ketinggalan jauh.

“Singapura sudah punya Singapore Dance Theatre, sedangkan Indonesia belum punya Indonesia ballet atau sesuatu yang disokong pemerintah, kemudian gedung-gedung pertunjukan sudah banyak, hanya belum ada institusi yang menggerakan balet,” ujarnya.

(vga/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK