'Lampu Panggung' Seni Pertunjukan Meredup

Rahman Indra, CNN Indonesia | Sabtu, 22/10/2016 12:32 WIB
Panggung teater, tari, dan musik mengalami penurunan dan keterpurukan. Para pegiat seni bertahan di antara minimnya dana dan minat penonton. Ilustrasi seni pertunjukan. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam beberapa tahun terakhir, geliat seni pertunjukan di Indonesia mengalami keterpurukan, baik di Jakarta ataupun di daerah.

Pernah menjadi tren lima tahun lalu, seni pertunjukan kemudian kerap muncul tenggelam, dan menghilang. Hanya beberapa grup teater ataupun seni pertunjukan yang bertahan, dan rutin menampilkan karya.

Berbagai kendala ditengarai menjadi penyebabnya, dari mulai susahnya pendanaan, mendatangkan penonton, hingga minimnya regenerasi.


Kegelisahan tersebut disampaikan sutradara film dan juga teater, Garin Nugroho saat ditemui di Jakarta baru-baru ini. Menurutnya, kondisi seni pertunjukan di Indonesia mengalami penurunan, bahkan di daerah, hampir jarang adanya pertunjukan seni.

“Sementara, pertunjukan seni amat penting, agar masyarakat dapat bersentuhan langsung dengan karya budaya, dan menjadikan mereka lebih sehat, tidak hanya dari fisik,” ujarnya.

Ditemui di sela-sela pelatihan seni pertunjukan untuk pegiat seni muda dari berbagai daerah Indonesia, Garin menuturkan, dirinya ingin seni pertunjukan kembali menggeliat dan dengan antusias bermunculan.

Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di berbagai daerah.

“Siapa mengira, kalau sebenanya kita itu sangat kaya, ada yang dari Jambi, Madura hingga Bali. Bisa dibayangkan kalau semua pegiat muda ini meneruskan dan konsisten berkarya di lingkungan masing-masing, seni pertunjukan akan kembali menggeliat maju,” ujarnya berharap.

Tak Bergairah

“Data pasti dan terbaru yang menunjukkan bahwa seni pertunjukan menurun, belum ada, akan tetapi bila merujuk data enam tahun terakhir, memang terjadi penurunan dari jumlah lembaga atau organisasi seni di Indonesia,” ujar Hikmat Darmawan, Wakil Ketua Koalisi Seni Indonesia saat dihubungi di Jakarta, Jumat (21/10).

Dalam Direktori Seni dan Budaya Indonesia Yayasan Kelola tahun 2000 diketahui bahwa terdapat kurang lebih 3800 lembaga kesenian di seluruh Indonesia. Sementara itu, pada direktori Seni dan Budaya Indonesia yang dirilis di tahun 2004, lembaga kesenian yang ada di Indonesia hanya tersisa kurang lebih 2400 lembaga, atau berkurang sekitar 1400 lembaga dalam kurun waktu empat tahun. 

Persoalan ini pun sempat menjadi pembahasan Koalisi Seni dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Keduanya sepakat akan pentingnya dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi kondisi seni pertunjukan di Indonesia.

“Kita juga masuk dalam pembahasan, apakah pertunjukan di kafe-kafe, atau bukan gedung pertunjukan termasuk dalam kategori seni pertunjukan,” ujarnya menambahkan.

Tidak hanya itu, pertunjukan dalam hal ini teater dan tari misalnya, juga dibagi lagi dalam beberapa kategori. Di antaranya pertunjukan yang bersifat tradisional, komersial, kontemporer, dan atau eksperimental.

Meski tidak ada data spesifik yang menunjukkan seni pertunjukan menurun atau malah makin banyak, kata dia, yang patut jadi perhatian adalah penonton dan jenis tanggapannya.

“Kalau dari segi jumlah, bisa jadi bergairah, hanya saja wacana percakapan tentang seni pertunjukan itu sendiri tidak banyak seperti yang diharapkan,” katanya.

Persoalan klasik

Ditemui terpisah, Maudy Koesnaedi, produser teater Abang None Jakarta, menilai tren seni pertunjukan sempat populer enam tahun lalu, ketika ramai bermunculannya berbagai karya, seperti Laskar Pelangi, Onrop, Gita Cinta SMA, dan lainnya.

Namun, tahun-tahun setelahnya hingga hari ini, kondisi seni pertunjukan kembali redup.

“Bahkan, ada yang membatalkan pertunjukan beberapa hari menjelang hari H, karena berbagai faktor. Salah satu kendala utamanya, adalah dana yang terbatas,” ujarnya menambahkan.

Aktris yang terkenal dengan perannya sebagai Zaenab dalam Si Doel Anak Sekolahan ini mengatakan, untuk urusan dana, penyelenggara teater tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket dari penonton.

Mengingat banyaknya kendala yang dihadapi untuk menggelar satu pertunjukan, Maudy pun mengaku puas jika dirinya berhasil menjaga konsistensi adanya pertunjukan setiap tahun.

“Teater sulit produksi di Jakarta, tidak hanya urusan kreatif, tapi juga hal lain, seperti pajak tiket, keamanan, perlengkapan tak terduga, dan lainnya,” kata dia.

Di luar itu, persoalan lainnya adalah bagaimana mendatangkan penonton. Apresiasi masyarakat yang segmented membuatnya sulit dijangkau.

“Sudah promo jauh-jauh hari, dan berbusa-busa, tapi pada hari pertunjukan tidak ada yang datang. Ada yang mau, tapi minta pertunjukan gratis,” tutur dia.

Hal-hal tersebut di atas kerap dialaminya sejak mengawali teater Abnon Jakara sepuluh tahun lalu. Ia pun kemudian punya trik dan solusi sendiri dalam menyiapkan produksi teater.

Pada kenyataan di lapangan, kata dia, tim produksi mesti menyesuaikan dengan sumber daya manusia yang ada, serta mampu mengemas pertunjukan dengan sentuhan modern sehingga sesuai dengan generasi muda sebagai target utama.

“Bagaimanapun, kalau mau kreatif, usahanya harus serba ekstra,” ungkapnya. (rah/rsa)