Pernah Dilarang, Teater Koma Pentaskan 'Opera Kecoa' Kembali

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 03/11/2016 18:20 WIB
Pernah Dilarang, Teater Koma Pentaskan 'Opera Kecoa' Kembali Teater Koma berlatih mementaskan Opera Kecoa. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 1990, para pemain Teater Koma tak sempat unjuk gigi di Gedung Kesenian Jakarta untuk mementaskan 'Opera Kecoa.' Pentas lakon itu juga tak diberi izin keliling Jepang. Padahal 'Opera Kecoa' pernah ditampilkan pada 1985 di Graha Bhakti Budaya, Taman Izmail Marzuki.

Baru pada 2003, tepat 13 tahun setelah pelarangannya, 'Opera Kecoa' boleh masuk Gedung Kesenian Jakarta. Sebelumnya, karya Nano Riantiarno itu sudah dipentaskan di Belvoir Theatre di Sydney, Australia, dengan judul 'Cockroach Opera,' dan banyak menarik perhatian.

Kini, pada 2016, Teater Koma kembali mementaskan pertunjukan yang sama. Pada 10 hingga 20 November mendatang, 'Opera Kecoa' ditampilkan sebagai produksi ke-146 Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, tempat lakon itu pertama kali dipentaskan pada 31 tahun lalu.


"Lakon 'Opera Kecoa' kembali kami hadirkan dan berkisah tentang perjuangan kaum minoritas yang hidup menderita, berimpit-impit dalam lorong gelap di balik kemegahan gedung tinggi, mencari keadilan dari para pemimpin," ujar Nano di Sanggar Teater Koma, Kamis (3/11).

Nano yakin, pertunjukan sarat makna yang akan ditampilkan dengan kolaborasi nyanyian dan gerak khas Teater Koma itu masih bisa menjadi potret keadaan masa kini.

Ancaman Mementaskan Lakon 'Opera Kecoa'

Usia 'Opera Kecoa' sejatinya sudah berpuluh-puluh tahun. Ia sudah melalui berbagai ancaman. Pada 2003 misalnya, Ratna Riantiarno menceritakan, ia pernah menerima ancaman bom saat akan mementaskan opera itu di Bandung, Jawa Barat.

“Kami standby di luar gedung, aparat keamanan menyisir tidak menemukan, kami pun kembali main sampai akhir aman," kisah Ratna.

Lebih dari sekadar ancaman bom, 13 tahun sebelum kejadian itu mereka dilarang mementaskan.

"Kami pernah dapat tawaran untuk mementaskan itu kembali pada awal '90-an di empat kota di Jepang. Sebelum berangkat kami ingin pentas selama tujuh hari di sini, tapi itu dilarang.”

Ratna melanjutkan, pentas saat itu nyaris terlaksana. Semua tiket sudah terjual. Tapi saat mereka hendak datang ke Gedung Kesenian Jakarta, pagar halamannya justru ditutup rapat.

“Melalui surat katanya itu tidak mendidik. Saat itu ramai wartawan dan seniman, kemudian kami menghadap dan orasi di DPR, termasuk seniman WS Rendra," ujar Ratna mengenang.

Usaha mereka sia-sia. Teater Koma tetap tidak mendapat izin, baik mementaskannya di Jakarta maupun membawanya ke Jepang. "Pihak Jepang pun sudah berusaha, tapi menyerah juga. Itu jadi sejarah menyedihkan, pertama kali diundang dan ditentang," kata Ratna lagi.

Teater Koma berlatih mementaskan Opera Kecoa.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Teater Koma berlatih mementaskan Opera Kecoa.
Meski kecewa, Ratna menyadari, bukan pergi ke Jepang yang penting. Dilarangnya pentas 'Opera Kecoa' di negeri sendiri justru membuat banyak penggemar Teater Koma bersimpati. Lebih dari 50 persen penonton yang sudah membeli tiket, memilih tidak mengambil kembali uangnya. “Malah ada yang kirim makanan, amplop,” ujar Ratna menyebutkan.

“Tapi karena kejadian itu, Nano sempat ngambek tidak mau berkarya," ia melanjutkan.

Baru setelah mendapat dukungan dari sana-sini, semangat Nano kembali. Ia masih mau berkarya, bahkan kini kembali menampilkan karya pertama yang mendasari Teater Koma itu.

"Saya percaya, aparat keamanan mampu menjaga kita, saya pentaskan ini supaya tidak ada pelarangan lagi," ujarnya. Diharapkan, itu bisa lancar pentas kelak.

'Opera Kecoa,' Potret Masa Lalu untuk Masa Kini

'Opera Kecoa' terbagi dalam dua sesi. Pertama berdurasi dua jam 10 menit, dan sesi ke-dua 45 menit. Lakon itu berkisah tentang orang-orang kecil yang menghadapi kenyataan keras.

Pentas itu mengisahkan perjuangan seorang bandit kelas teri bernama Roima, yang sedang berada di persimpangan jalan. Ia tertarik pada Tuminah, seorang pekerja seks komersial yang sudah punya pacar seorang waria bernama Julini.

Ketiga orang tersebut dan tokoh-tokoh lainnya melakoni perjuangan hidup yang hanya punya dua risiko: ada atau tersingkir. Nasib baik jarang memihak mereka. Tempat mereka seperti sudah digariskan di gorong-gorong, di dalam got, di kolong jembatan, di kawasan kumuh yang jorok, yang gelap dan berbau busuk.

Tim Teater Koma yang akan memainkan Opera Kecoa.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Tim Teater Koma yang akan memainkan Opera Kecoa.
"Keadaannya masih sama, kita ditekan entah sama siapa. Dulu kalau lihat kecoa saya lari, tapi sekarang hanya diam saja melihatnya. Itu yang terjadi sekarang. ‘Kecoa' sekarang lebih berbahaya, kita tidak tahu musuh kita sekarang," kata Nano menjelaskan ceritanya.

Bagi Nano, 'Opera Kecoa' adalah "potret masa lalu untuk masa depan.” “Apa yang terjadi di masa lalu begitu keras, semoga tidak terjadi sekarang atau ke depannya. Rakyat bisa melakukan aktivitas dan merdeka,” katanya melanjutkan.

Pementasan 'Opera Kecoa' 2016 ini didukung oleh Ratna sendiri, Budi Ros, Rita Matu Mona, Dorias Pribadi, Alex Fatahillah, Daisy Lantang, Sri Yatun, Ratna Ully, Raheli Dharmawan, Julius Buyung, Ina Kaka, Ledi Yoga, Dodi Gustaman, Sir Ilham Jambak, Bangkit Sanjaya, Rangga Riantiarno, Adri Prasetyo, Tuti Hartati, Bayu Dharmawan Saleh, Didi Hasyim dan Joind Bayuwinanda.

Lirik-lirik gubahan Nano akan diiringi oleh komposisi musik almarhum Harry Roesli dengan aransemen garapan Fero Aldiansya Stefanus.

"Sampai pementasan pada 2003 kami masih bersama almarhum Harry. Pentas itu kami lakukan di Jakarta dan Bandung. Sekarang kami akan tetap pakai musik miliknya dengan aransemen Fero yang sudah kami 'garap' jadi pemusik teater," kata Nano.

Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno, sosok di balik Opera Kecoa.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno, sosok di balik Opera Kecoa.
Tata gerak diurus Ratna Ully. Naomi Lumban Gaol membimbing vokal. Penataan busana diserahkan ke tangan Alex Fatahillah, sementara tata artistik dan tata cahaya panggung digarap oleh Taufan S. Chandranegara, didukung oleh Pimpinan Panggung Sari Madjid.

Pengarah tekniknya sendiri dilakukan oleh Tinton Prianggoro serta Pimpinan Produksi Ratna Riantiarno, di bawah arahan ko-sutradara Ohan Adiputra dan Nano.

'Opera Kecoa' akan dipentaskan setiap hari selama 11 hari, mulai 10 sampai 20 November 2016, pukul 19.30 WIB. Khusus hari Minggu, pementasannya pukul 13.30 WIB. Tiket 'Opera Kecoa' dibagi ke dalam empat kelas dan dijual dengan kisaran harga Rp100-400 ribu. (rsa/rsa)