Cerita Pemuda Indonesia Ikut Sukseskan 'Ghost in the Shell'

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 06/04/2017 14:02 WIB
Cerita Pemuda Indonesia Ikut Sukseskan 'Ghost in the Shell' Pemuda Malang membuat poster untuk Ghost in the Shell. (Courtesy Evan Raditya Pratomo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia ternyata ikut berperan dalam kesuksesan film Ghost in the Shell di box office. Film besutan sutradara Rupert Sanders itu menggunakan ilustrator asal Indonesia.

Dia adalah pemuda asal Malang, Evan Raditya Pratomo. Evan masih muda, usianya 27 tahun.

Ia memang seorang desainer. Selama ini Evan adalah pekerja lepas. Karier menggambarnya ia mulai sejak sekitar 2011. Saat itu, ia menggambar untuk buku cerita anak-anak.


Tapi ia merasa tidak terlalu berkembang. Evan akhirnya pindah haluan dengan mendesain berbagai gaya. Pada 2014, dia mencoba aliran kontemporer dan pop surrealis Jepang.
Karya-karyanya kemudian diunggah ke media sosial. Pada Mei 2016, ia mengunggah empat gambar yang mengubah hidupnya. Power, The Debris, Filled Her Lungs, A Kiss for Red Sun, ke Tumblr. Sehari setelah mengunggahnya, tanpa disangka Evan dihubungi Paramount Pictures.

Itu sebuah studio ternama di Hollywood. Evan mendapat surat elektronik yang memuji karyanya. Paramount mendapat nama Evan karena saat itu sedang bekerja sama dengan Tumblr.

Mereka tengah mencari desainer yang cocok untuk membuat poster film terbaru. Film itu berjudul Ghost in the Shell, yang dibintangi aktris Hollywood ternama, Scarlett Johansson.

Nama Evan terjaring dari seluruh desainer di dunia, bersama dengan beberapa ilustrator lainnya yang berasal dari Taiwan, Singapura, Spanyol, Argentina, dan Amerika Serikat.
Satu-satunya pemuda dari Indonesia itu dipilih karena dianggap memiliki gaya yang cocok dengan Ghost in the Shell. Itu film adaptasi dari komik Jepang. Gaya Evan: ‘ke-Jepang-jepang-an.’ Karyanya dinilai memiliki perpaduan budaya yang pas antara timur dan barat.

"Mereka [Paramount] lihat karya saya cocok karena memiliki perpaduan timur dan barat dengan objek manusia yang berwajah barat, tapi warna dan finishing dari Jepang," kata Evan kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi melalui telepon, Kamis (6/4).

Evan kemudian diminta untuk terbang ke Wellington, Selandia Baru, lima hari setelah menerima surat elektronik itu. Jika tidak, proyek itu dianggap batal. Tak ayal, ia panik.

Bagaimana tidak, Evan harus mengurus segala keperluan berangkat ke Selandia Baru sendiri, dalam waktu singkat pula. Belum urusan visa, yang biasanya butuh waktu dan rumit.

[Gambas:Instagram]

"Saya coba ajukan saja, modal berani. Dan setelah berjuang lima hari, akhirnya berhasil terbang ke Wellington," tutur Evan mengungkapkan kelegaannya.

Selama lima hari di Wellington, Evan diajak berkeliling lokasi syuting Ghost in the Shell. Ia melihat area produksi mulai dari properti, kostum, hingga riasan. Ia bisa melihat langsung proses pembuatan film, tapi sayangnya tak bisa bertemu para pemain utama.

Evan hanya sempat berjumpa sutradara Sanders dan beberapa pemain pengganti.

Dengan melihat itu semua, diharapkan Evan dan ilustrator lain tahu lebih banyak tentang film bergenre laga fiksi ilmiah itu. Dengan begitu, gambar mereka lebih pas.

Karya Evan Raditya Pratomo untuk film box office Ghost in the Shell yang dibintangi Scarlett Johansson.Foto: Courtesy Evan Raditya Pratomo
Karya Evan Raditya Pratomo untuk film box office Ghost in the Shell yang dibintangi Scarlett Johansson.
"Di sana saya diajak tur keliling kota, semacam liburan mendadak. Ke sana supaya ada bayangan dan materi lengkap untuk buat gambar," ujar Evan.

Hasil dari kunjungan itu, Evan membuat dua poster Ghost in the Shell untuk promosi di media sosial yang disebarkan ke seluruh dunia. Karya pertama Evan menampilkan Johansson, yang berperan sebagai Mira Killian, bersanding dengan Pilou Asbaek sebagai Batou.

Ke-dua, gambar ScarJo yang dikeliling kabel dan mesin robot. Evan membuat dua karya itu berpatokan pada komik dengan judul sama. Poster itu kini tersebar di mana-mana.

Tapi saat ditanya soal bayaran, Evan enggan menjawab. Ia hanya tertawa kecil sambil mengakui, “Lumayan oke.” Yang jelas, ia sudah bisa ‘kaya’ dari pengalaman.

Ini merupakan pengalaman Evan pertama kali bekerja untuk Hollywood. Ia berharap bisa berkontribusi untuk film-film lain sebagai desainer, sambil membawa nama Indonesia ke dunia.
Karya Evan Raditya Pratomo yang membuatnya terpilih untuk menjadi ilustrator film Ghost in the Shell.Foto: Courtesy Evan Raditya Pratomo
Karya Evan Raditya Pratomo yang membuatnya terpilih untuk menjadi ilustrator film Ghost in the Shell.