Dalam tema Land, Home and People misalnya, ada karya Raden Saleh berjudul Javanese Mail Station yang dibuat pada 1876. Ada juga Miguel Covarrubias dengan Map of Bali with the Rose of the Winds (1930) dan Walter Spies dengan Sawahlandschaft mit Gunung Agung.
Karya walter Spies yang berjudul View Across The Sawahs To Gunung Agung (Sawahlandschaft Mit Gunung Agung). (Foto: Dok. Museum MACAN) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karya Sudjana Kerton yang berjudul Akibat Pemboman di Lengkong Besar Bandung, 1945-1979. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pada bagian Struggles Around the Form, periode 1965-1998, pameran menampilkan karya-karya abstrak dan figuratif seniman Indonesia dan luar negeri yang tampil cukup mencolok. Di antaranya ada karya Robert Rauschenberg, AS berjudul Rush 20 (1980), Atsuko Tanaka, Jepang berjudul Untitlted (1963), Arahmaiani, Indonesia dengan Lingga-Yoni (1994) dan Gerhard Richter, Jerman dengan Abstraktes Bild (1991).
Karya Tanaka Atsuko yang berjudul Untitled, 1963. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pada bagian ke-empat, The Global Soup periode 1998-dan seterusnya, ada perubahan signifikan di Indonesia dan seniman internasional. Beberapa yang jadi sorotan dalam pameran di antaranya karya Yayoi Kusuma, dari Jepang berjudul Infinity Mirrored Room--Briliance of the Soulds (2014), Ichwan Noor, Indonesia dengan Beetle Sphere (2013) Jeff Koons, AS dengan karyanya Hulk (Wheelbarrow), dan Wang Guangyi dari China dengan Andy Warhol (2002).
Karya Wang Guangyi yang berjudul Andy Warhol, 2002. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pameran perdana Art Turns/World Turns: Exploring Museum MACAN ini berlangsung dari 7 November 2017 hingga 18 Maret 2018.






Karya Robert Rauschenberg yang berjudul Rush 20 (Cloister Rush Series), 1980. (Foto: Dok. Museum MACAN)