Melihat Bocoran Koleksi Seni Pameran Perdana Museum MACAN
CNN Indonesia
Senin, 17 Apr 2017 06:57 WIB
Dari beberapa karya yang dipamerkan pertama oleh Museum MACAN itu, diantaranya dibagi dalam beberapa tema besar.
Dalam tema Land, Home and People misalnya, ada karya Raden Saleh berjudul Javanese Mail Station yang dibuat pada 1876. Ada juga Miguel Covarrubias dengan Map of Bali with the Rose of the Winds (1930) dan Walter Spies dengan Sawahlandschaft mit Gunung Agung.
Pada tema ke-dua, masa antara 1945 hingga 1965. Di bagian ini karya seniman modern Indonesia yang terkemuka, di antaranya karya Sindodarsono Sudjojono, berjudul Ngaso (1964), Dullah dengan karyanya Bung Karno di tengah Perang Revolusi (1966), Sudjanan Kerton dengan karyanya Akibat Pemboman di Lengkong Besar Bandung, 1945 yang dibuat 1979, serta karya Srihadi Soedarsono, berjudul Landscape (1962).
Pada bagian Struggles Around the Form, periode 1965-1998, pameran menampilkan karya-karya abstrak dan figuratif seniman Indonesia dan luar negeri yang tampil cukup mencolok. Di antaranya ada karya Robert Rauschenberg, AS berjudul Rush 20 (1980), Atsuko Tanaka, Jepang berjudul Untitlted (1963), Arahmaiani, Indonesia dengan Lingga-Yoni (1994) dan Gerhard Richter, Jerman dengan Abstraktes Bild (1991).
Pada bagian ke-empat, The Global Soup periode 1998-dan seterusnya, ada perubahan signifikan di Indonesia dan seniman internasional. Beberapa yang jadi sorotan dalam pameran di antaranya karya Yayoi Kusuma, dari Jepang berjudul Infinity Mirrored Room--Briliance of the Soulds (2014), Ichwan Noor, Indonesia dengan Beetle Sphere (2013) Jeff Koons, AS dengan karyanya Hulk (Wheelbarrow), dan Wang Guangyi dari China dengan Andy Warhol (2002).
Pameran perdana Art Turns/World Turns: Exploring Museum MACAN ini berlangsung dari 7 November 2017 hingga 18 Maret 2018.
Dalam tema Land, Home and People misalnya, ada karya Raden Saleh berjudul Javanese Mail Station yang dibuat pada 1876. Ada juga Miguel Covarrubias dengan Map of Bali with the Rose of the Winds (1930) dan Walter Spies dengan Sawahlandschaft mit Gunung Agung.
Karya walter Spies yang berjudul View Across The Sawahs To Gunung Agung (Sawahlandschaft Mit Gunung Agung). (Foto: Dok. Museum MACAN) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karya Sudjana Kerton yang berjudul Akibat Pemboman di Lengkong Besar Bandung, 1945-1979. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pada bagian Struggles Around the Form, periode 1965-1998, pameran menampilkan karya-karya abstrak dan figuratif seniman Indonesia dan luar negeri yang tampil cukup mencolok. Di antaranya ada karya Robert Rauschenberg, AS berjudul Rush 20 (1980), Atsuko Tanaka, Jepang berjudul Untitlted (1963), Arahmaiani, Indonesia dengan Lingga-Yoni (1994) dan Gerhard Richter, Jerman dengan Abstraktes Bild (1991).
Karya Tanaka Atsuko yang berjudul Untitled, 1963. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pada bagian ke-empat, The Global Soup periode 1998-dan seterusnya, ada perubahan signifikan di Indonesia dan seniman internasional. Beberapa yang jadi sorotan dalam pameran di antaranya karya Yayoi Kusuma, dari Jepang berjudul Infinity Mirrored Room--Briliance of the Soulds (2014), Ichwan Noor, Indonesia dengan Beetle Sphere (2013) Jeff Koons, AS dengan karyanya Hulk (Wheelbarrow), dan Wang Guangyi dari China dengan Andy Warhol (2002).
Karya Wang Guangyi yang berjudul Andy Warhol, 2002. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pameran perdana Art Turns/World Turns: Exploring Museum MACAN ini berlangsung dari 7 November 2017 hingga 18 Maret 2018.
Di antara beberapa karya yang akan ditampilkan itu berasal dari nama seniman ternama Indonesia dan juga dunia. Di antaranya terdapat karya Raden Saleh, S. Sudjojono, FX Harsono, Arahmaini, Robert Raushcenberg, Yayoi Kusama dan Jean-Michel Basquiat.
"Eksibisi perdana Museum MACAM akan membahas sejarah seni rupa Indonesia dalam konteks dunia, dan menunjukkan inti dari kedalaman dan keluasan koleksi karya seni rupa pendiri museum Haryanto Adikoesoemo," ungkap Aaron Seeto, dalam pernyataan resminya yang diterima redaksi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pameran perdana itu menampilkan karya dari 70 seniman dari berbagai negara Asia, Eropa dan Amerika.
"Ini kali pertama saya berbagi koleksi ini dengan publik, rasanya mendebarkan," ujarnya.
Pameran perdana
Koleksi pameran perdana akan mengisi keseluruhan ruang eksibisi yang tersedia di museum yang dibangun seluas 4.000 meter persegi.
Museum dibagi menjadi empat bagian tematis yang menghubungkan karya seni rupa setiap periode dengan gerakan sosial dan politik yang relevan; Land, Home, People (1800an-1945), Independence and After (1945-1965), Struggles around the Form (1965-1998), dan The Global Soup (1998-seterusnya).
Karya Raden Saleh Sjarif Boestaman yang berjudul Javanese Mail Station, 1876. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Karya Sindudarsono Sudjojono yang berjudul Ngaso, 1964. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Karya Robert Rauschenberg yang berjudul Rush 20 (Cloister Rush Series), 1980. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Charles Esche, kurator pameran mengungkapkan pameran perdana ini mengambil pendekatan koleksi museum dari perspektif sejarah. "Bermula dari penempatan koleksi Indonesia di posisi sentral dalam narasi pameran dan menariknya ke luar ke arah internasional," ujarnya.
Karya Ichwan Noor yang berjudul Beetle Sphere, 2013. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pameran ini, ditambahkan ko-kurator Agung Hujatnika, mempertanyakan bagaimana seniman Indonesia terhubung dengan dan merespons pergelutan dalam diri mereka sendiri seiring dengan wacana sejarah yang lebih luas.
Koleksi pameran perdana
Karya Dullah yang berjudul Bung Karno di Tengah Perang Revolusi, 1966 (Foto: Dok. Museum MACAN)
Dalam tema Land, Home and People misalnya, ada karya Raden Saleh berjudul Javanese Mail Station yang dibuat pada 1876. Ada juga Miguel Covarrubias dengan Map of Bali with the Rose of the Winds (1930) dan Walter Spies dengan Sawahlandschaft mit Gunung Agung.
Karya walter Spies yang berjudul View Across The Sawahs To Gunung Agung (Sawahlandschaft Mit Gunung Agung). (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Karya Sudjana Kerton yang berjudul Akibat Pemboman di Lengkong Besar Bandung, 1945-1979. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pada bagian Struggles Around the Form, periode 1965-1998, pameran menampilkan karya-karya abstrak dan figuratif seniman Indonesia dan luar negeri yang tampil cukup mencolok. Di antaranya ada karya Robert Rauschenberg, AS berjudul Rush 20 (1980), Atsuko Tanaka, Jepang berjudul Untitlted (1963), Arahmaiani, Indonesia dengan Lingga-Yoni (1994) dan Gerhard Richter, Jerman dengan Abstraktes Bild (1991).
Karya Tanaka Atsuko yang berjudul Untitled, 1963. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pada bagian ke-empat, The Global Soup periode 1998-dan seterusnya, ada perubahan signifikan di Indonesia dan seniman internasional. Beberapa yang jadi sorotan dalam pameran di antaranya karya Yayoi Kusuma, dari Jepang berjudul Infinity Mirrored Room--Briliance of the Soulds (2014), Ichwan Noor, Indonesia dengan Beetle Sphere (2013) Jeff Koons, AS dengan karyanya Hulk (Wheelbarrow), dan Wang Guangyi dari China dengan Andy Warhol (2002).
Karya Wang Guangyi yang berjudul Andy Warhol, 2002. (Foto: Dok. Museum MACAN) |
Pameran perdana Art Turns/World Turns: Exploring Museum MACAN ini berlangsung dari 7 November 2017 hingga 18 Maret 2018.






Karya Robert Rauschenberg yang berjudul Rush 20 (Cloister Rush Series), 1980. (Foto: Dok. Museum MACAN)