Trump Tower 'Diserang' Babi Terbang

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 09/05/2017 19:13 WIB
Gedung Trump Tower di Chicago juga menjadi sasaran 'penyerangan' untuk mempermalukan sang Presiden Amerika Serikat. Trump Tower dijadikan sasaran instalasi seni menentang Donald Trump. (Reuters/Eduardo Munoz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Donald Trump tidak hanya mendapat serangan di lambang bintangnya di Hollywood Walk of Fame. Gedung Trump Tower di Chicago juga menjadi sasaran untuk mempermalukan sang Presiden Amerika Serikat.

Diberitakan NME, gedung itu akan diserbu oleh sekelompok babi yang terinspirasi oleh Pink Floyd. Empat ekor babi itu akan ditempatkan di salah satu sisi gedung, sampai menutupi nama Trump.

Tidak seperti toilet emas atau tembok di bintang Hollywood Trump, babi-babi kali ini punya ‘tuan.’ Arsitek Jeffrey Roberts adalah orang di balik penciptaan instalasi itu pada November lalu
Ia menyebutkan karyanya: Flying Pigs on Parade, alias Parade Babi Terbang.


Menurut laporan Architectural Digest, masing-masing babi berukuran 10 x 5 meter. Mereka akan dibuat ‘berjalan’ berurutan dan ditambatkan ke sungai Chicago. Deretan babi itulah yang akan menutupi tanda penyebut gedung sehingga tak terlihat lagi nama Trump di sana.

Melalui situs pribadinya Roberts menyebut, babi-babi itu akan mengapung di sungai Chicago musim panas ini, namun belum ada tanggal pasti. Ia juga ingin menempatkan babi-babi itu di kota lain di Amerika Serikat di mana ada bangunan yang dimiliki Trump.

Roberts mengakui babi-babinya terinspirasi Pink Floyd.
“Pada 1977, Pink Floyd menerjemahkan interpretasi musikal mereka tentang alegori ke album berkonsep Animals, sebagai response atas kondisi sosial politik pada akhir 1970-an di Inggris,” kata Roberts menerangkat proyeknya.

“Seperti buku Orwell, pesan interpretasi Animals sayangnya menjadi sangat relevan lagi."

Karya seninya kali ini, lanjut Roberts, akan memberi masyarakat Chicago pemandangan berbeda tentang Trump Tower. Menurutnya, karyanya itu secara jelas sangat kontras dengan kondisi kacau dan kelakuan aneh Trump sebagai Presiden AS saat ini.

Meski begitu, rencana Roberts masih harus mendapat persetujuan dari Roger Waters, personel Pink Floyd yang juga memegang hak cipta atas album itu.