Menghubungkan Indonesia dan Venesia lewat Karya Seni

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 11/05/2017 10:46 WIB
Seniman Tintin Wulia mewakili Indonesia dalam pameran seni rupa internasional Venice Art Biennale ke-57 di Italia. Ia mengusung proyek 1001 Martian Homes. Seniman Tintin Wulia mewakili Indonesia dalam pameran seni rupa internasional Venice Art Biennale ke-57 di Italia. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mewakili Indonesia, seniman Tintin Wulia menampilkan proyek tunggal dalam pameran seni rupa internasional La Biennale di Venezia (Venice Art Biennale) ke-57. Uniknya, proyek bernama 1001 Martian Homes yang terdiri dari tiga pasang instalasi seni ini ditampilkan di dua lokasi berbeda secara simultan, tepatnya di Paviliun Indonesia di Arsenale, Venesia, Italia dan Senayan City, Jakarta.

Kepala Bekraf Triawan Munaf dalam peresmian Paviliun Indonesia di Jakarta, Rabu (10/5), menyampaikan bahwa karya Tintin ini menjadi bagian penting dari budaya kontemporer dunia dan perkembangannya.

"1001 Martian Homes ini menyampaikan pesan relevan bahwa perubahan kebudayaan global ketika internet dan teknologi pengaruhi ruang fisik dan batas geografis," katanya.



Pada peresmiannya, secara paralel dilakukan prosesi potong tumpeng antara lokasi di Indonesia dengan di Venesia. Yang mana dari sisi Indonesia akan melihat langsung kondisi di Venesia, begitu sebaliknya secara bersamaan.

Untuk lokasi di Indonesia sendiri, Triawan ditemani Menteri Komunikasi Rudiantara dan Direktur Seni Enin Supriyanto. Sementara, untuk lokasi di Venesia dilakukan Tintin bersama Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik.

Pamerannya sendiri baru dapat dikunjungi publik mulai 13 Mei hingga 26 November 2017 mendatang. Nantinya, para pengunjung di kedua lokasi dapat berinteraksi dengan objek seni, layar dan kamera yang saling terhubung secara digital.


Melalui siaran pers, Tintin memaparkan bahwa ketiga pasang karya ini memang bersifat interaktif dan saling terhubung satu sama lain melalui jaringan Internet. Tiga karya itu dinamakan Not Alone, Under the Sun, dan A Thousand and One Martian Home.

Dia menyebutkan karyanya itu mengambil inspirasi dari sejarah lisan yang nyaris hilang dan menggarap narasi-narasi yang dikisahkan di masa depan, di mana ruang dan waktu hari ini adalah masa lalu.

"Karya ini mencerminkan pergerakan yang tidak menentu dalam kehidupan kita sebagai manusia di dunia yang kita tempati ini," katanya.


Tintin menjelaskan, 1001 Martian Homes juga terinspirasi dari kisah nenek moyangnya yang harus bermigrasi dan menjalani kehidupan serta perjalanan antar dua tempat, Indonesia dan China, ketika kedua negara itu belum mengenal konsep kedaulatan seperti sekarang.

Ketertarikan dia pada isu-isu teritori dan perpindahan manusia lantas mendorongnya merumuskan konsep yang relevan dengan situasi global saat ini, di mana teknologi digital dan jaringan internet menciptakan kondisi yang membuat seolah-olah tinggal dalam 'dunia tanpa batas.'

Proyek 1001 Martian Homes ini pun menjadi pengembangan Tintin dari rangkaian karya dia sebelumnya yang berfokus pada tema tentang batas dan identitas.