'Layaknya Cinta, Seni Tak Perlu Dimengerti tapi Diterima'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 11/05/2017 20:22 WIB
Kurator dan seniman lokal berkomentar soal pandangan orang awam yang sering mengaku tak memahami karya seni yang sedang dipamerkan. Kurator dan seniman lokal berkomentar soal pandangan orang awam yang sering mengaku tak memahami karya seni yang sedang dipamerkan. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Saya tidak mengerti."

Tak dapat dipungkiri, ucapan itu sering kali terdengar bila berada di sebuah pameran seni, atau kala berdebat soal karya seni. Namun, menurut kurator Galeri Nasional Jakarta Rizki A. Zaelani, itu merupakan persepsi yang salah.

Rizki menyebut bahwa seni tidak harus dimengerti, melainkan diterima.


"Itu istilah umum yang juga menjadi persepsi salah, menganggap seni seolah sebuah deskripsi. Padahal suka ada kan istilah 'itu seninya,' kita susah paham tapi ya begitu saja [apa adanya]," ujarnya saat ditemui CNNIndonesia.com di Ruang Melati, Gedung Sampoerna Strategic, Jakarta, Rabu (10/5).


Ia melanjutkan, "Seperti tinggal di Jakarta yang macet terus tapi tetap tinggal dan bilang 'itu seninya.' Seni itu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, hampir dekat dengan pengertian cinta."

Rizki berpandangan, seni sebenarnya lebih berkaitan dengan penerimaan. Ia menuturkan, penerimaan itu bisa berbentuk sangat sederhana, yakni dengan dapat merasakan kebahagiaan saat melihat karya seni, tanpa paksaan untuk mengertinya.

Karenanya, Rizki menyimpulkan bahwa penerimaan terhadap karya seni jauh lebih penting.

"Karena bila sudah menerima nanti akan mengerti lewat caranya sendiri. Itu lebih penting daripada berdebat soal ini bulan atau bukan bulan, misalnya," katanya.


Sepakat dengan Rizki, Hanafi yang juga seorang seniman mengungkapkan bahwa antar seniman pun terkadang ada yang tidak mengerti karya seniman lain. Baginya, saat karya seni dapat memberi pengalaman penikmatnya, maka karya itu seperti telah 'laku terjual.'

"Terbeli itu menjadi dua hal berbeda. Dari panitia, misalnya, terbeli itu dalam arti dapat uang. Namun bagi kreator, karyanya dibaca orang saja sudah terbeli. Jadi sekalipun tidak terjual secara fisik, bagi kami itu sudah 'terjual' secara pikiran, karena karya kami sudah menjadi sebuah pengalaman bagi orang yang melihatnya," katanya.

Pembahasan ini kemudian dikaitkan Rizki dengan tujuan diadakannya sebuah pameran seni. Senada dengan Hanafi, menurut Rizki, pameran seni itu bukan sekadar menghadirkan seni kontemporer ataupun tradisi saja, melainkan bagaimana mendekatkan seni sebagai sebuah pengalaman.


"Jadi bukan karena ini karya siapa, itu bukan yang dimaksud dengan pengalaman. Saya ingin seni dialami jadi bisa merasakan senangnya, bagusnya gimana," tuturnya.

Tak lupa, dengan enteng Rizki menghimbau, "Tidak usah takutlah kalau tidak paham, yang penting senang."