Tersentuh Damai dalam Seni Jalanan Israel

REUTERS/Amir Cohen, CNN Indonesia | Jumat, 09/06/2017 13:35 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Di Arad, sebuah kota di Israel, sekelompok seniman dari Amerika, Israel dan Hawaii membuat dinding lebih berwarna dengan corat-coret muralnya.

Di tengah perang dan kecamuk senjata antara Israel dan Palestina, Arad menjadi sebuah lokasi yang damai dengan seni muralnya. (REUTERS/Amir Cohen)
Seniman dari Israel maupun Amerika berkreasi di sana dalam rangka pekan seni POW! WOW! Israel, yang berkaitan dengan POW! WOW! di Hawaii. (REUTERS/Amir Cohen)
Mereka menggambar langsung di dinding-dinding di jalanan Arad, sementara anak-anak bebas bermain dan masyarakat beraktivitas biasa di sekitarnya. (REUTERS/Amir Cohen)
Dinding yang tadinya putih bersih pun kini jadi berwarna-warni penuh ekspresi. (REUTERS/Amir Cohen)
Seniman Amerika yang mengklaim diri bernama Drew misalnya, menggambar wajah perempuan dengan rambut ikal dan tubuh seperti tertanam di tanah. (REUTERS/Amir Cohen)
Zero Cents punya ekspresi yang berbeda-beda. Ia merupakan seniman keturunan Amerika dan Israel. Selain menggambar sepasang bocah lelaki dan perempuan, ia juga melukis sesosok berbusana rapi seperti setelan politisi. (REUTERS/Amir Cohen)
Cryptik, seniman Amerika berekspresi menggambar burung bangau dengan warna putih. Namun, ada motif seperti kaligrafi mengisi tubuh burung itu. (REUTERS/Amir Cohen)
Bukan hanya seniman dari Amerika dan Israel, ada pula seniman dari Hawaii yang ikut berpartisipasi. Kamea Hadar melukis mata dan segitiga seperti lambang Illuminati. (REUTERS/Amir Cohen)
Seniman Hawaii lainnya, Noelle Enright membuat dinding lebih berwarna dengan tulisan salam khas Yahudi: Shalom, shalom, shalom, shalom, shalom. (REUTERS/Amir Cohen)
POW! WOW! Israel diadakan untuk berkontribusi, berbagi budaya dan keindahan melalui seni. Komunitas artis itu terbang ke Arad yang dianggap belum tersentuh seni jalanan. (REUTERS/Amir Cohen)
Setelah dari Arad mereka lanjut ke Tel Aviv untuk melanjutkan tahap final dari festival seni yang berlangsung selama dua pekan di Israel itu. (REUTERS/Amir Cohen)