Buah 4 Tahun 'Perantauan' Imajinasi Penulis 'Negeri 5 Menara'

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 10/07/2017 20:14 WIB
Buah 4 Tahun 'Perantauan' Imajinasi Penulis 'Negeri 5 Menara' Buku baru Ahmad Fuadi berjudul Anak Rantau. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perlu waktu cukup lama bagi Ahmad Fuadi untuk merilis novel lain setelah trilogi Negeri 5 Menara. Tak seperti novel-novel sebelumnya, kali ini Fuadi butuh waktu dua kali lipat untuk menamatkan pembuatan novel terbarunya yang bertajuk Anak Rantau.

Fuadi memakan waktu hingga empat tahun untuk memantapkan ide dan menuangkannya menjadi kata-kata dalam buku yang masih berlatar Tanah Minang, kampung halamannya itu.

"Ini pengendapan idenya lama, idenya sudah banyak tapi kok ditulis enggak lancar, tapi akhirnya bisa selesai," kata Fuadi saat berkunjung ke CNNIndonesia.com, Senin (10/7).



Demi mematangkan tulisan, Fuadi sampai melakukan riset ke Sumatera Barat. Dia banyak melakukan wawancara dengan pemuka adat dan para perantau. Namun, berbeda dengan trilogi Negeri 5 Menara yang bercerita tentang anak kampung yang merantau hingga keliling dunia, Anak Rantau justru berkisah tentang perantauan yang kembali ke kampung halaman.

Novelnya kali ini juga murni fiksi, tidak seperti trilogi Negeri 5 Menara yang diinspirasinya dari kisah nyata berupa pengalaman hidupnya sendiri.

Berlatar daerah imajiner tepi danau di kawasan Agam, Sumatera Barat, Anak Rantau mengangkat tema rekonsiliasi atau penyembuhan luka.

"Temanya  banyak, tapi yang paling besar adalah rekonsiliasi, karena setiap orang punya luka, punya masalah dan tidak sembuh-sembuh. Menurut saya, luka itu tidak sembuh karena dia baru satu langkah, yakni memaafkan,” ujar lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor itu.


“Kalau di buku ini,” lanjutnya, “Ada pesannya: maafkan lepaskan, lupakan.”

Fuadi menjelaskan setiap karakter utama dalam Anak Rantau punya luka tersendiri. Misalnya, tokoh bapak yang punya luka dengan masa lalu dan karakter kakek dengan masalah korupsi. Luka terbaru muncul lewat tokoh Donwori Bihepi yang akrap disapa Hepi.

Hepi merupakan anak laki-laki yang menyimpan dendam dan amarah karena dipaksa kembali ke kampung halaman oleh bapaknya yang sibuk mengurus bisnis di Jakarta. Selama di Kampung Tanjung Durian itu, Hepi berproses mengobati marahnya dengan bergaul bersama anak kampung.

"Ini perjalanan para tokoh mengobati luka masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri.”
Ahmad Fuadi saat mengunjungi redaksi CNNIndonesia.com.Ahmad Fuadi saat mengunjungi redaksi CNNIndonesia.com. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Sayangnya, tidak ada lagi pepatah-pepatah Arab yang bisa menjadi filosofi hidup di novel ini. Alih-alih, man jadda wajada dan man shobaro dzofiro digantinya dengan filosofi Minang, seperti alam takambang jadi guru atau alam tersedia untuk menjadi belajar.

Selain hubungan keluarga yang menjadi sorotan, lanjut Fuadi, novel ini juga berisi otokritik untuk pembaca serta kampung halaman. Padahal awalnya, Fuadi mengaku dia hanya ingin membuat romantisme indah tentang kampung. Di tengah proses, berbagai kritik muncul.

"Saya harapkan kritik ini membuat lebih baik bukan untuk menjelekkan," ucap Fuadi.

Salah satu kritik yang nyata, misalnya, soal kondisi kampung halaman yang sudah mulai rusak secara struktur sosial. Ia menemukan tatanan pemimpin adat, generasi muda, bahkan fungsi surau atau masjid sudah tidak digunakan seperti dahulu lagi.


“Dulu anak laki-laki tidak boleh pulang ke rumah, begitu tamat SD dia harus pindah, nginapnya di surau. Di sanalah terjadi pembelajaran, sekarang tidak ada lagi,” katanya.

Novel Anak Rantau sudah mulai dijual di toko buku online sejak awal bulan ini. Khusus pembeli pre-order akan mendapat diskon dari buku yang awalnya dihargai Rp90 ribu ini.

Sejauh ini, Anak Rantau direspons positif dengan berhasil terjual dua ribu kopi dalam dua minggu pertama. Fuadi menyebut, saat ini buku setebal 382 halaman itu sudah berhasil menjadi buku terlaris yang dijual di toko buku online.
Anak Rantau, buku terbaru karya Ahmad Fuadi.Anak Rantau, buku terbaru karya Ahmad Fuadi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Anak Rantau rencananya bakal beredar luas di toko buku seluruh Indonesia akhir bulan ini.