'Genjer-genjer' yang Terasing dari Sejarahnya Sendiri

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 20/09/2017 12:08 WIB
Genjer-genjer diidentikkan dengan PKI. Padahal lagu itu punya sejarahnya sendiri yang sejatinya sama sekali tak berkaitan dengan partai palu arit. Genjer-genjer ditakuti karena identik dengan PKI, padahal lagu itu punya sejarahnya sendiri. (Ilustrasi/Pixabay/Kimera)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jangankan mendengar sepenggal lirik seperti ‘Genjer-genjer nong kedokan pating keleler. Emak'e thole teko-teko mbubuti genjer.’ Mendengar informasi bahwa ada yang menyanyikan lagu itu saja, sudah bisa memicu konflik. Lihat saja yang terjadi di Kantor YLBHI Jakarta.

Minggu (17/9) malam, sekelompok anti-PKI melempari kantor itu hanya karena mendengar informasi bahwa mereka menggelar aksi mendukung diskusi yang membahas PKI. Bahkan katanya ada Genjer-genjer dinyanyikan. Padahal menurut Melanie Subono yang ikut ‘ngamen’ atas nama demokrasi di sana, tak sedikit pun ia menghafal lagu yang identik dengan PKI itu.

Lagipula, kepolisian pernah menyebut bahwa yang menyanyikan Genjer-genjer bisa ditangkap.



Entah dari mana awalnya, Genjer-genjer diidentikkan dengan PKI. Lagu itu konon mengiringi tarian mesum para Gerwani. Padahal Genjer-genjer sejatinya sudah ada sejak 1953.

Adalah Muhammad Arief yang menciptakan lagu itu. Ia merupakan seniman asal Banyuwangi. Lirik asli Genjer-genjer pun sebenarnya dalam Osing, bahasa asli masyarakat Banyuwangi. Sejatinya, inspirasi lagu itu adalah lagu rakyat Tong Alak Gentak. Syairnya digubah.

Arief membuat lagu itu jadi menyindir Jepang. Genjer, hal yang menjadi fokusnya, adalah tanaman gulma yang biasa dimakan itik. Tapi rumput liar yang mengganggu itu sampai harus dimakan rakyat Indonesia yang kesusahan, di zaman penjajahan Jepang.


Dengan melodi yang ritmis dan mudah diingat, Genjer-genjer pun populer. Apalagi sejak dinyanyikan Lilis Suryani dan Bing Slamet. Lagu itu diputar di radio-radio.

Konon, PKI kemudian memanfaatkan lagu itu untuk propaganda. Liriknya diubah dan dinyanyikan di setiap kampanye. Mungkin itu sebabnya ia seakan milik partai palu arit.

Apalagi kemudian Genjer-genjer disetel di film Pengkhianatan G30S/PKI yang dahulu wajib diputar setiap tahun. Lagu itu mengiringi adegan tersadis PKI terhadap jenderal-jenderal yang diculiknya. Lagu itu kembali muncul di film Gie, di adegan demo melawan Soekarno.


Tapi kalau Genjer-genjer menjadi ‘momok’ di Indonesia, di Jerman justru ada kegiatan Genjermania. Tomi Simatupang, pemuda asal Yogyakarta yang merupakan putra dari sutradara dan aktor Landung Simatupang, yang menggagasnya. Genjermania merupakan kegiatan yang memadukan konser, presentasi audiovisual, penampilan, dan aktivisme.

Di sela-sela presentasi audiovisual misalnya, Genjer-genjer dinyanyikan.

Itu bisa dilakukan di kafe-kafe yang dipadati orang, tanpa takut ditangkap polisi. Tidak ada yang mengaitkan lagu itu dengan PKI. Kalau pun ada, akan berakhir dengan diskusi. Tomi juga akan bercerita secara komperehensif soal sejarah sebenarnya di balik lagu itu.

Tomi Simatupang berani menyanyikan Genjer-genjer di negeri orang.Tomi Simatupang berani menyanyikan Genjer-genjer di negeri orang. (Dok. Facebook/Tomi Simatupang)
Tomi Simatupang menyanyikan Genjer-genjer bersama musisi dari berbagai negara.Tomi Simatupang menyanyikan Genjer-genjer bersama musisi dari berbagai negara. (Martin Kranz/Facebook Tomi Simatupang)
“Pada intinya, saya menggunakan Genjer-genjer sebagai benang merah untuk menceritakan sejarah Indonesia, dengan fokus peran Indonesia dalam perang dingin dan genosida yang terjadi setelah G30S," ujar Tomi saat diwawancara CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Genjer-genjer yang dimainkan Tomi pun bisa diubah dengan beragam genre musik. Dengan gitarnya Tomi membuat lagu itu bergaya blues, rock, jazz, bahkan sampai reggae. Dengan gaya berbeda-beda itu ia pernah bermain dengan musisi dari Jerman, Polandia, Australia, Amerika Serikat, Turki, Norwegia, Israel, termasuk dari Indonesia sendiri.

Di sela lagu, ia juga bercerita soal Arief dan nasib keluarganya. Arief ditangkap, rumahnya dirusak massa. Keluarganya memilih pindah dan memutus kaitan mereka dengan lagu Genjer-genjer demi tak dicap PKI. Tetangga di tempat baru pun tak tahu muasal mereka.


“Takut kalau tetangga tahu, akan diusir,” kata kerabat yang pernah diwawancara detik.com.

Anak dan cucu Arief hanya ingin mengubur masa lalu Genjer-genjer. Sama seperti polisi dan kebanyakan warga Indonesia kini. Padahal kalau mereka mengulik sejarahnya, akan ditemui bahwa itu hanya sebuah ekspresi seni yang tak ada kaitan dengan PKI maupun Gerwani.

Tomi sebagai pendendang Genjer-genjer di negeri orang berharap, aksinya menceritakan sejarah lagu itu termasuk perkara PKI, bisa menular ke Tanah Airnya sendiri. “[Semoga] banyak orang berani melacak sejarah dengan otaknya sendiri,” tutur Tomi menegaskan.

TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK