Konser di Cagar Budaya, Gengsi Industri Tanpa Hitung Risiko

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 07/10/2017 12:00 WIB
Konser di Cagar Budaya, Gengsi Industri Tanpa Hitung Risiko Pengamat kebudayaan menilai ide konser di cagar budaya cenderung hanya soal keuntungan industri tanpa melihat risiko terhadap bangunan warisan leluhur. (Detikcom/Johanes Randy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah beberapa tahun terakhir penyelenggaraan konser musik melirik kawasan cagar budaya, seperti Prambanan Jazz. Namun saat niat menampilkan musik rock atau metal di kawasan cagar budaya setua Candi Prambanan muncul, pengamat kebudayaan menilai ide itu mengada-ada.

Dosen Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, Djohan Salim menilai penyelenggaraan konser musik dengan memanfaatkan kawasan cagar budaya hanya dijual untuk kepentingan industri semata tanpa mempertimbangkan risiko terhadap bangunan kuno.

"Konser di lingkungan cagar budaya, ada beberapa pandangan. Konteks ini industrial, untuk menjual, karena Dream Theater grup papan atas. Dari kacamata industri, selain gengsi mendatangkan artis besar juga profit," kata Djohan.



Candi Prambanan menarik minat Rajawali Indonesia Communication, mengadakan konser musik rock JogjaROCKarta di kawasan cagar budaya tersebut. Semula, mereka ingin mengadakan di Stadion Kridosono, Yogyakarta.

Namun pihak penyelenggara menilai Candi Prambanan lebih mewakili kota Yogyakarta yang sekaligus menjadi inspirasi nama konser rock tersebut.

"Sulit mencari venue yang representatif. Satu-satunya yang bersejarah Stadion Kridosono, tapi yang paling pas itu Candi Prambanan, bisa ditunjukkan pada dunia," kata CEO Rajawali Indonesia Communication Anas Syahrul Alimi dalam jumpa pers JogjaROCKarta di Jakarta, Agustus lalu.

Hanya saja keinginan Anas terbentur masalah perizinan karena membawa musik rock. Setelah berusaha, ia berhasil meyakinkan dan mengantongi izin perisapan JogjaROCKarta di Prambanan.

JogjaROCKarta dipindah dari Candi Prambanan.JogjaROCKarta dipindah dari Candi Prambanan. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Beberapa hari jelang pelaksanaan yang ditetapkan pada 29 dan 30 September lalu, berbagai protes mulai berdatangan. Salah satu protes itu datang dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Anas pun menyerah, ia memindahkan JogjaROCKarta ke Stadion Kridisono.

Djohan memahami pandangan Anas yang melihat Candi Prambanan sebagai lokasi menarik untuk mengadakan pertunjukan dengan tamu band internasional sekelas Dream Theater.

Namun, musik rock yang dibawa acara beserta pengisi JogjaROCKarta dianggap Djohan mampu mengancam keberadaan peninggalan bersejarah yang telah menjadi warisan dunia tersebut.


Kebutuhan industrial

Djohan menjabarkan, penyelenggaraan musik di kawasan cagar budaya kuno pernah pula dilakukan di Acropolis, Yunani, oleh musisi orkestra Yanni.

Tapi, lokasi konser Yanni yang berada dalam bangunan amfiteater khusus berbeda dengan Candi Prambanan. Djohan mengkhawatirkan desibel dan getaran dari gelombang suara musik rock mengganggu bangunan candi.

Terlebih, Djohan menilai lokasi lain dapat menjadi ikon tanpa mempertaruhkan risiko yang tinggi terhadap bangunan bersejarah.

Dampak positif dan negatif menggelar konser di cagar budaya.Dampak positif dan negatif menggelar konser di cagar budaya. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
"Kalau bicara musik, musik itu audio, sensasi yang muncul saat menonton pertunjukan musik itu timbul karena [kebutuhan] industrial," kata Djohan.

"Seni pertunjukan sebenarnya tidak punya porsi besar dalam musik, nonton konser rock itu cukup liat panggung, bisa disiasati dengan backdrop kalau ingin ada unsur Prambanan," lanjutnya.

Awal mula penyelenggaraan sebuah pertunjukan yang menampilkan budaya pop di kawasan cagar budaya disebut Djohan berawal dari perayaan ulang tahun stasiun televisi swasta di Candi Prambanan pada 2015.


Namun saat itu menurutnya tidak masalah, karena konsepnya dalam bentuk orkestra.

Untuk itu dia menyarankan kejadian dari JogjaROCKarta dijadikan pembelajaran. Bila kukuh ingin menggelar sebuah konser, harus dipertimbangkan kembali dari jenis musik.

Terlebih, hal itu dia sampaikan untuk Dinas Kebudayaan khususnya yang mengelola Warisan Budaya. Menurut Djohan, Dinas Kebudayaan membutuhkan referensi musik dalam memberikan izin penyelenggaraan konser di Candi Prambanan.

Dream Theater akhirnya batal tampil di Candi Prambanan.Dream Theater akhirnya batal tampil di Candi Prambanan. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
"Musik rock melahirkan getaran. Dan harus realistis untuk menggunakan jenis musik lain yang tidak bising [di kawasan Candi Prambanan]. Kalau tujuannya promosi wisata bisa datangkan orkestra, musik yang kira-kira sesuai, dan efek risikonya tidak besar," katanya.

"Untuk mengadakan sebuah konser rock kemarin itu kurang pertimbangan awal. Toh di [Stadion] Kridosono, tetap sukses." tambah Djohan menyinggung pelaksanaan JogjaROCKarta yang tetap penuh di stadion kebanggan Kota Gudeg itu.