Polemik Gelar Konser Musik di Kawasan Warisan Budaya

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 07/10/2017 08:26 WIB
Kontroversi pelaksanaan konser Dream Theater di JogjaROCKarta ternyata hanya permulaan dari polemik yang belum terlihat oleh publik. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akhir September lalu jadi momen penuh polemik bagi salah satu cagar budaya kebanggaan Indonesia, Candi Prambanan. Semua bermula dari rencana penyelenggaraan JogjaROCKarta yang mengundang band metal progresif Dream Theater.

Datangnya band nomine Grammy Awards ke candi Hindu itu ternyata bikin 'ngeri.' Sebagian kelompok masyarakat menilai suara kencang dan getaran dari musik metal akan membahayakan kelangsungan Prambanan.

Padahal, pihak penyelenggara Rajawali Indonesia Communication mengaku telah mengikuti syarat menggelar konser musik di tempat yang biasa jadi lokasi pementasan teatrikal Ramayana itu, terutama soal tingkat kebisingan.


Izin pun telah dikantongi dari Direktorat Kebudayaan Warisan Budaya Benda Dunia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun itu tak menghentikan protes, terutama dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI).

Lembaga ilmuwan itu menyampaikan protes keras atas penyelenggaraan JogjaROCKarta dan mendesak pemerintah serta PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sebagai pengelola untuk membatalkan izinnya.

Belum sampai Pemerintah membatalkan izin, Rajawali Indonesia mundur dan memindahkan konser itu ke ide semula sebelum Candi Prambanan, Stadion Kridosono, Yogyakarta.

Belum Ada Aturan

Ternyata, mundurnya konser band metal internasional itu dari pelataran Prambanan justru membuka selubung polemik yang belum tampak selama ini.

Konser yang sudah membuat panggung di Candi Prambanan dipindahkan.Konser yang sudah membuat panggung di Candi Prambanan dipindahkan. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Kepala Subdirektorat Warisan Budaya Benda Dunia Kemendikbud Yunus Arby sempat menyayangkan mundurnya pihak penyelenggara, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Yunus menilai, keberadaan konser Dream Theater di Candi Prambanan bisa jadi pembelajaran guna melihat keamanan penyelenggaraan konser musik kencang di kawasan budaya.

"Sebenarnya yang ingin saya sampaikan, hal seperti ini kan baru dan bila tetap dilaksanakan meski dengan satu risiko, risiko itu sebagai pembelajaran bersama," kata Yunus. Yunus mengacu pada aturan hukum menggelar sebuah kegiatan di kawasan cagar budaya. Selama ini, penyelenggaraan sebuah kegiatan di kawasan konservasi itu hanya mengacu pada aturan Analisis Dampak Lingkungan.


Dengan kata lain, belum ada aturan spesifik yang mengatur soal penyelenggaraan kegiatan seperti konser musik dan sejenisnya di kawasan peninggalan leluhur itu. Yunus menilai, momentum batalnya JogjaROCKarta membuat tugas pemerintah belum rampung.

"Buat kami, pekerjaan itu belum selesai. Justru [konser] itu yang membuat kami harus berpikir bagaimana membuat sebuah aturan, yang mengatur ke depannya kawasan candi atau world heritage mampu menjawab persoalan saat sudah menjadi milik publik," kata Yunus. "Ini yang belum dilaksanakan di sini."

Dream Theater akhirnya menggelar konser di Stadion Kridosono.Dream Theater akhirnya menggelar konser di Stadion Kridosono. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)



1 dari 2