'Boundless Love,' Bentuk Kolaborasi Perfilman Indonesia-China

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 20:58 WIB
'Boundless Love,' Bentuk Kolaborasi Perfilman Indonesia-China Aktris Putri Ayudya dan aktor China Shenhao beradu akting dalam film kolaborasi Indonesia-China, 'Boundless Love.' (CNN Indonesia/Aghniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dan China menandai kolaborasi produksi perfilman melalui Boundless Love. Film yang mengisahkan tentang pasangan muda-mudi dengan latar belakang perbedaan budaya Indonesia dan China ini baru menyelesaikan proses syuting selama tiga minggu di Palembang dan Bandung.

“Saya sangat semangat, kami datang sejak 17 Desember dan mulai syuting pada 22 Desember. Setelah dua tahun berturut-turut memulai produksi, dari pertama buat, banyak rintangan tak semulus yang kami kira, tapi sekarang sudah selesai [syuting],” kata Wang Yimin, selaku sutradara dalam sesi temu media di Jakarta, Jumat (5/1).

Yimin pun berterimakasih atas dukungan semua pihak, termasuk instansi pemerintah Indonesia dan China hingga akhirnya menyelesaikan film yang diangkat dari kisah nyata tersebut.


“Terima kasih dukungannya, sehingga tim kami bisa berjalan dan selesai produksi. Film ini tentang cinta tak kenal batas, cinta yang benar-benar murni,” katanya.


Kendala Bahasa

Boundless Love melibatkan 90 persen pemain dari Indonesia yang berasal dari beragam suku dan etnik. Aktris Putri Ayudya didapuk menjadi pemeran utama bernama Nova dan beradu akting dengan aktor China, Shenhao sebagai Chen Chang.

Sejumlah pemain pendukung juga meramaikan film ini, termasuk Ray Sahetapi, Nungki Kusumastuti, Ade Firman Hakim, dan Maryam Supraba.

Putri dan Shen Hao sepakat bahwa komunikasi menjadi kendala utama untuk mereka dalam beradu akting. Putri bahkan harus berakting dengan bahasa Mandarin.

“Kendala bahasa, dengan segala keterbatasan saya tidak akan bisa apa-ap tanpa translator. Saya belajar bahasa Mandarin satu malam sebelum syuting, dan ada trik sendiri untuk penggunaan selama syuting. Ini 70 persen menggunakan bahasa Mandarin,” kata Putri.

Shenhao menambahkan, “Memang hambatan budaya dan bahasa yang berbeda. Peran utama dari cewek dan cowok kalau tidak saling mengenal bagaimana menyelesaikan film ini, tapi itu hanya sebagai pemikiran saya dan kenyataan tidak seperti itu. Kami bisa menyelesaikannya.”


Sang sutradara kemudian mengungkapkan bahwa Putri dipilih dari 60 orang yang diseleksi secara ketat. Yimin mengaku langsung terkesan dengan kemampuan aktingnya sejak pandangan pertama dan mengatakan bahwa Putri merupakan sosok perempuan periang dipenuhi dengan jiwa muda dan detail dalam berakting.

“Dia mampu berdialog dengan hati untuk menyampaikan apa yang ada di dalam film. Dia punya cinta yang murni, saat syuting dia orang yang giat dan penuh tantangan. Berusaha menghapal dialog dengan bahasa Mandarin,” pujinya soal sosok Putri yang pernah membintangi film Guru Bangsa: Tjokroaminoto.

Selama pembuatan film berlangsung, Yimin pun mengatakan memiliki kesan yang mendalam dengan masyarakat Indonesia yang ramah dalam menerima tamu. Dia pun berharap kelak film ini dapat menjadi sebuh karya yang berarti.

“Ini merupakan cara memperkenalkan perbedaan antar dua negara, Indonesia dan China. Saya berharap film ini bisa memberikan makna kepada penonton soal murninya cinta sejati, serta tentang kebudayaan Indonesia-China. Saya berharap ini menjadi hal bagus yang dapat dilestarikan,” kata Yimin.


Tidak hanya kolaborasi dari segi pemain, kru, serta lokasi syuting, film tersebut juga menjadi wujud kerjasama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Red and White China dan PT. Kamala Media Cipta yang mendapatkan investasi berupa pendanaan dari Ganshu Biaonshi Culture Communication Group.

Jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan film dari tahap awal sampai akhir diperkirakan mencapai 20 juta yuan (sekitar Rp 40 miliar) yang sepenuhnya ditanggung China dengan bantuan seperti dari PT Shenhua Indonesia Power Plant and Coal dan Gansu Media Entertainment.

Deputi IV Bidang Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak menyebutkan, pembuatan film ini pun memiliki fokus untuk memperkuat hubungan Indonesia dan China.

“Mei lalu kami melakukan misi perdagangan ke Shanghai dan bertemu dengan pelaku industri film China,” ujar Joshua.


Ia menambahkan, upaya ini diharapkan tidak hanya dengan China dan berhenti berhenti di Boundless Love.

“Promosi industri film Indonesia bukan hanya lewat film, tapi juga lokasi syuting dan kerjasama produksi. Dari Boundless Love kami ingin tahu pengalaman selama syuting baik atau buruk yang juga dapat sebagai evaluasi ke depannya untuk lokasi syuting di Indonesia. Kami ingin ini bukan yang terakhir,” katanya.

Setelah ini, Joshua menyebut akan menyusul pembuatan film tentang Tsunami yang rencananya akan menggunakan mekanisme berbagi biaya (cost-sharing), yaitu 80 persen dari pelaku film China dan 20 persennya dari Indonesia. Dia pun mengatakan bahwa ada kemungkin Jet Li atau Jackie Chan ikut terlibat.

“Pas di sana bertemu berbagai pihak, lalu ada yang serius ingin menceritakan kembali soal Tsunami. Saya bilang sudah banyak yang angkat, dan dia menjanjikan akan membedakannya dengan membawa Jet Li atau Jackie Chan,” ungkapnya.

(res)