Itu disampaikan Ajip pada perayaan ulang tahun ke-80 yang digelar di halaman Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Kota Bandung, Rabu (31/1). Hadir dalam pesta itu para sahabat Ajip baik dari kalangan seniman maupun budayawan seperti Saini KM, Edi Iskandar, Godi Suwarna, dan Nani Wijaya.
Selain itu, pada perayaan genap ulang tahun ke-80 yang digelar kemarin, Ajip memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada mereka yang berjasa dalam mengembangkan bahasa dan sastra daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Bahasa Kita untuk Dunia |
Untuk Sastra Sunda adalah Nazarudin Azwar dengan karya berjudul Miang. Sastra Jawa diraih Suharmoni K. dengan karya Kakang Kawah Adi Ari-ari.
Lalu untuk sastra Bali diberikakan kepada Nirguna dengan karya Bulan Sisi Kauh, Sastra Lampung untuk Muhamad Harya Ramdoni dengan karyanya berjudul Semilau. Kemudian, untuk Sastra batak diberikan kepada Panusunan SImanjuntak yang menulis karya berjudul Bangso Na Jugul Do Hami. Sedangkan sastra Banjarmasin diberikan kepada Hatmiati Mas'yud lewat karya berjudul Pilanggur. Dan, karya sastra Samsudi diberikan kepada Tetty Hodijah lewat karya Ulin ka Monumen.
"Kadang kita malu beliau masih terus enerjik. Minimal kalau sedang ditelepon semangatnya masih terasa," ujarnya.
Sebagai penulis kreatif, dia memulainya lewat sajak, cerita pendek, roman, drama dan lain-lain dalam bahasa Indonesia dan Sunda pada 1952 silam.
Bukunya yang pertama terbit ketika usianya 17 tahun dengan judul Tahun-tahun Kematian pada 1955 silam. Hingga sekarang total lebih dari 130 judul, baik kumpulan cerita pendek, kumpulan sajak, roman, drama, esai, kritik; asli tulisannya sendiri, maupun terjemahan yang sudah diterbitkan Ajip. (hyg/kid)